Page 65 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JANUARI 2020
P. 65

mampu kemudian meng-capture banyak hal," tambah dia.

               Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Piter Abdullah, menilai pembahasan
               Omnibus Law harus didorong sesegera mungkin. Alasannya, banyak masalah
               ekonomi yang akan selesai dengan peraturan yang bersifat menyeluruh dan tidak
               tumpang tindih.

               "Regulasi yang tumpang tindih tentu tidak bisa diselesaikan satu persatu karena
               akan lama prosesnya. Saya kira ini terobosan yang bagus sekali, diharapkan bisa
               menyelesaikan hambatan investasi yang mengganggu dan membuat kita sulit
               bersaing," ujar Piter saat dihubungi Liputan6.com.

               Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan hal senada. Omnibus Law
               dianggap bisa memangkas birokrasi yang rumit dan membuat proses investasi
               menjadi mudah.

               "Dengan Omnibus Law ini, investasi, baik investasi dari luar negeri maupun
               domestik, diharapkan dapat tumbuh karena isi dari peraturan ini sebagian besar
               terkait dengan pelonggaran birokrasi, aturan, dan izin. Dengan dipotongnya
               birokrasi dan juga perizinan, diharapkan di jangka pendek hingga menengah,
               investor akan mulai tertarik untuk berinvestasi di Indonesia," ujarnya.

               Meski demikian, ada beberapa poin yang harus diperhatikan pemerintah dalam
               menyusun RUU sapu jagat. Misalnya, dalam Omnibus Law Perpajakan, pemberian
               insentif bagi perusahaan dinilai belum terlalu perlu mengingat tarif pajak tidak
               termasuk dalam lima besar faktor penghambat investasi.
               Pro dan Kontra

               Sekretaris Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Susiwijono mengatakan,
               melalui RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja, pemerintah ingin mendorong
               investasi dan menyerap tenaga kerja yang lebih besar. Dampak lanjutan menuju
               pertumbuhan ekonomi.

               "Sekarang ini masih ada pengangguran 7,5 juta orang. Tambahan angkatan kerja
               baru 2 jutaan orang. Artinya sekitar 9 juta orang perlu lapangan kerja setiap tahun,"
               jelas dia.

               Dia menyebut, satu persen pertumbuhan ekonomi akan menyerap 400.000 pekerja.
               "Target pertumbuhan untuk 5 tahun kan 6 persen itu untuk menampung 9 juta
               orang yang butuh pekerjaan tadi. Dalam teori sebelumnya, 1 persen pertumbuhan
               ekonomi itu akan menyerap 400.000 pekerja," jelas dia.

               Namun ternyata, penolakan masih muncul dari kalangan buruh. Ribuan buruh
               menyampaikan penolakan dengan menggelar aksi demontrasi di depan Gedung
               DPR, Senin (20/1/2020).

               Buruh menilai keberadaan Omnibus Law akan merugikan. Presiden KSPI yang juga



                                                       Page 64 of 152.
   60   61   62   63   64   65   66   67   68   69   70