Page 152 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 152

TUNTUT KENAIKAN UPAH, JUTAAN BURUH DARI BANYAK PROVINSI SIAP MOGOK

              Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) berencana melakukan aksi mogok serentak pada
              Desember 2021. Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden KSPI, Said Iqbal. Ia mengaku pihaknya
              menolak penerapan upah minimum oleh Kementerian Ketenagakerjaan pada 2022 sebesar 1,09
              persen.

              "Mogok  nasional  direncanakan  pada  awal  Desember  2021.  Tanggalnya  kemungkinan  tentatif
              yaitu  6  atau  8  Desember,  namun  belum  ada  keputusan  resmi  dari  semua  gabungan  serikat
              buruh," tutur Said Iqbal dalam konferensi pers virtual, Selasa (16/11/21).

              Ia mengatakan pemogokan akan diikuti sekitar dua juta buruh di lebih dari 30 provinsi, yang
              mana menurutnya hal tersebut sudah sesuai dengan konstitusi Indonesia. Selain itu, Said Iqbal
              mengungkapkan buruh juga akan melakukan aksi unjuk rasa besok di daerah masing-masing di
              mana dipusatkan di kantor gurbenur hingga DPRD.

              Kemudian KSPI bakal mengajak 60 federasi serikat pekerja tingkat nasional dan 6 konfederasi
              dan  aliansi  konfederasi  untuk  melakukan  aksi  secara  nasional  yang  berpusat  Istana  Negara,
              Kementerian Tenaga Kerja, dan gedung DPR RI.

              "Jadi  mereka  akan  menghentikan  proses  produksi  di  daerahnya  masing-masing  secara
              bergelombang. Salah satunya di Cianjur, Sukabumi, Bogor, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah,
              hingga puncaknya pada Desember 2021," katanya.

              Seperti diketahui, Said Iqbal menyampaikan alasan pihaknya meminta kenaikan upah minimum
              tahun 2022 sebesar 7-10 persen. Survei pun dilakukan KSPI di 10 provinsi, tiap provinsi dilakukan
              survei di 5 pasar tradisional dengan menggunakan parameter 60 item Kebutuhan Hidup Layak
              (KHL) sesuai UU No 13 Tahun 2003.

              Hasilnya, didapatlah rata-rata kenaikan UMK/UMP adalah 7 sampai 10 persen. Demikian kata
              Said Iqbal. Alasan KSPI menggunakan UU No 13 Tahun 2003, karena saat ini buruh sedang
              menggugat UU Cipta Kerja di Mahkamah Konstitusi (MK).

              "Karena  judicial  review  UU  Cipta  Kerja  belum  incrah,  maka  Undang-Undang  dan  Peraturan
              Pemerintah yang lama masih berlaku," terang Said Iqbal.

              "Bahkan jika menggunakan PP No 78 Tahun 2015, maka kenaikan upah minimum adalah berkisar
              6 persen. Hampir sama angka kenaikannya dengan mengacu pada KHL," lanjutnya.
              KSPI berpendapat, karena post Covid-19, daya beli masyarakat dan buruh harus dikembalikan
              seperti  awal,  dengan  dinaikkan  upah  minimumnya  minimal  7  persen.  Hal  ini  dilakukan  agar
              konsumsi naik sehingga pertumbuhan ekonomi juga ikut naik.

              Iqbal berpendapat, bagi perusahaan yang terdampak krisis ekonomi dan Covid-19, tidak perlu
              menaikkan UMP atau UMK 2022. Semua dibuktikan dengan audit laporan keuangan perusahaan
              yang  mengalami  kerugian  dalam  dua  tahun  terakhir  serta  diserahkan  ke  Disnaker  dan
              diumumkan ke buruh.

              Ia  juga  mengatakan,  apabalia  pemerintah  dan  pengusaha  tidak  mempertimbangkan  usulan
              buruh  ini,  kemungkinan  besar  bakal  ada  aksi  yang  lebih  luas  dan  lebih  besar  secara  terus-
              menerus.

              Akurat.co Disclaimer : Artikel ini adalah kerja sama antara Indosport.com dengan AkuratCo Hal
              yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung
              jawab dari AkuratCo.


                                                           151
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157