Page 254 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 254

“Dengan melihat perkembangan sikap pemerintah dalam hal ini Menteri Ketenagakerjaan yang
              lebih  memberikan  proteksi  kepada  kalangan  pengusaha  atau  pemilik  modal,  dibandingkan
              memberikan juga perlindungan kepada kaum pekerja atau buruh atau pegawai atau karyawan,”
              tegasnya.

              Said menilai pemerintah saat ini hendak mengembalikan rezim upah murah yang jauh lebih buruk
              dari era Presiden Soeharto.

              “Mengembalikan rezim upah murah jauh lebih buruk dari zaman Soeharto di Era Orde Baru,”
              imbuhnya.

              Oleh  karena  itu,  pihaknya  bersikeras  mendesak  pemerintah  menetapkan  upah  minimum
              mengacu  Undang-undang  (UU)  Nomor  13 Tahun  2003 dan Peraturan  Pemerintah  Nomor  78
              dalam menetapkan penyesuaian upah minimum 2022.

              “Dengan  demikian  serikat  pekerja  dalam  hal  ini  KSPI  dalam  menghitung  kenaikan  upah
              menggunakan dalil hukum yang lama, yaitu Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
              Ketenagakerjaan pasal tentang pengupahan, dan Peraturan Pemerintah atau PP Nomor 78 tahun
              2015 yang belum dicabut,” jelasnya.

              Lebih  lanjut,  bila  menggunakan  UU  No  13/2013  dasar  penetapan  upah  minimum  adalah
              kebutuhan hidup layak (KHL).

              Hasil survei di 10 provinsi yang KSPI lakukan, masing-masing di 5 pasar didapat total KHL rata-
              rata kenaikannya adalah 7 sampai 10 persen.

              Sedangkan,  bila  menghitung  dengan  PP  78,  di  mana  formula  penghitungan  kenaikan  upah
              minimum menggunakan data inflasi dan pertumbuhan ekonomi, maka hitungan dari September
              2020-September 2021 adalah 4 hingga 6 persen.
              “Yang bisa diputuskan oleh pemerintah adalah kenaikan upah minimum sebesar 5% sampai 7%,
              tuntutan serikat buruh 7% sampai 10%. Itu dasarnya, jadi semua ada dasarnya,” pungkasnya.
              ***
































                                                           253
   249   250   251   252   253   254   255   256   257   258   259