Page 447 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 APRIL 2021
P. 447

mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus menerus, tetapi kurang dari 12 bulan, THR diberikan
              secara proporsional. Perhitungannya, masa kerja dibagi 12 bulan kemudian dikali 1 bulan upah.
              Lalu,  bagi  pekerja/buruh  yang  bekerja  berdasarkan  perjanjian  kerja  harian  yang  telah
              mempunyai masa kerja 12 bulan atau lebih, upah 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah
              yang diterima selama 12 bulan terakhir. Sedangkan bagi pekerja/buruh yang telah mempunyai
              masa  kerja  kurang  dari  12  bulan,  upah  1  bulan  dihitung  berdasarkan  rata-rata  upah  yang
              diterima tiap bulan selama masa kerja.

              Nah, bagi perusahaan yang telat membayar THR maka akan dikenakan denda 5 persen dari total
              THR yang harus dibayar sejak berakhirnya batas waktu kewajiban pembayaran. Namun, denda
              ini  tak  menghilangkan  kewajiban  pengusaha  untuk  tetap  membayar  THR  kepada  peker-
              janya.Sementara,  pengusaha  yang  tak  membayar  THR  akan  dikenakan  sanksi  administratif
              berupa teguran tertulis dan membatasi kegiatan usaha perusahaan tersebut.

              Ida  juga  meminta  pemda  untuk  tegas  dalam  menegakkan  hukum  sesuai  kewenan-gannya
              terhadap pelanggaran pemberian THR ini. Termasuk, membentuk Pos Komando Pelaksanaan
              Tunjangan  Hari  Raya  Keagamaan  Tahun  2021  (Posko  THR)  dengan  tetap  memperhatikan
              protokol kesehatan.

              Sementara itu, pengusaha masih menyampaikan nada keberatan terkait kebijakan pemerintah
              mengenai  THR  tahun  ini.  Wakil  Ketua  Umum  Kamar  Dagang  dan  Industri  (Kadin)  Bidang
              Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Anton I Supit menegaskan bahwa kebijakan tersebut
              memang tidak akan berpengaruh pada industri besar yang memiliki kemampuan finansial yang
              masih baik. "Bagi yang mampu tidak masalah. Tanpa SE pun mereka akan bayar. Persoalan kan
              ada yang tidak mampu. Sedangkan SE ini kesannya memaksakan harus bayar lunas," ujar Anton,
              pada Jawa Pos, kemarin.

              Anton meminta pemerintah mencermati bahwa kewajiban membayar THR secara lunas bersifat
              general, berlaku untuk semua skala perusahaan tanpa terkecuali. "Artinya termasuk UKM. Tidak
              ada dispensasi (untuk perusahaan kecil, red). Padahal kita sendiri tahu kemampuan perusahaan
              berbeda-beda," tambahnya.

              Anton  mengatakan  bahwa  saat  ini  pengusaha  relatif  pasrah.  Di  satu sisi  Anton  menegaskan
              bahwa kebijakan atau instruksi pemerintah harus diikuti pelaku usaha yang tidak punya kuasa
              untuk melawan. Perkara sanksi, Anton mengatakan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan jika
              pemerintah  berkehendak  demikian.  "Kalau  pemerintah  sudah  mau  main  sanksi  terserah
              pemerintah lah kami mau diapakan. Ini ibarat mau amankan ayam atau telurnya. Kalau ayamnya
              terus ditekan, dampak jangka panjangnya tentu ayamnya ada potensi mati," keluhnya.

              Menurut Anton, selama pandemi masih belum jelas kapan usainya, pengusaha perlu memikirkan
              strategi bertahan Secara sektor, pariwisata dar sektor angkutan menurut Anton menjadi sektor
              yang saa ini paling tertekan. "Kita ha rus mentally prepared untul marathon bukan sprint. Artiny
              harus betul-betul jaga napaf supaya tidak kehabisan napaf di tengah jalan. Apakah ini disadari
              pemerintah?," tegasnya.

              Anton berpendapat bahwc kesepakatan bipartit atai kesepakatan dua pihak secara khusus antara
              pember kerja dan penerima kerja masih menjadi solusi yang cukup adil. "Siapa yang pai ing tahu
              kondisi  perusahaar  jika  bukan  karyawan  dar  manajemen  itu  sendiri.  Biarkan  saja  mereka
              berunding Kecuali jika ada perusahaar yang moral hazard-nya jelek Misalnya mampu tapi tidak
              mau membayar sesuai aturan nah itu biar karyawannya yang bersikap," pungkasnya.
              Tak Semua Siap





                                                           446
   442   443   444   445   446   447   448   449   450   451   452