Page 451 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 APRIL 2021
P. 451

OPSI NILAI SURAT EDARAN THR TIMBULKAN KETIDAKPASTIAN

              Menteri  Ketenagakerjaan  telah  mengeluarkan  Surat  Edaran  tentang  Pelaksanaan  Pemberian
              Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2021 Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

              Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timboel Siregar pun menilai,
              adanya SE ini menimbulkan ketidakpastian.

              Hal  ini  khususnya  berkaitan  dengan  aturan  yang  mengatakan  bahwa  perusahaan  yang
              terdampak  Covid-19  sehingga  tak  mampu  membayar  THR  2021  sesuai  dengan  waktu  yang
              ditentukan membuat dialog untuk mencapai kesepakatan, dimana kesepakatan secara tertulis
              yang memuat waktu pembayaran THR dengan syarat paling lambat dibayar sebelum hari raya
              keagamaan 2021.

              "Dengan klausula tersebut saya menilai pengusaha yang tidak mampu karena terdampak Covid
              19 dipaksa membayarkan THR paling lambat H-1 sebelum hari raya. Saya nilai klausula ini sangat
              membingungkan  dan  sangat  sulit  dilaksanakan  oleh  Perusahaan,"  ujar  Timboel  dalam
              keterangan tertulis, Senin (12/4).

              Menurutnya,  aturan  ini pun  hanya  mengubah  waktu  pembayaran dari  H-7  ke  H-1  dan  tidak
              membuka ruang bagi perusahaan yang tidak mampu untuk mencicil.

              Tak  hanya  menyulitkan  perusahaan  untuk  mencari  dana  dalam  waktu  6  hari,  kewajiban
              pembayaran H-1 bagi perusahaan yang terdampak Covid-19 pun akan menjadi masalah bagi
              buruh.  "Karena  bila  H-1  tidak  juga  dibayarkan  oleh  Perusahaan,  apa  yang  bisa  dilakukan
              Pengawas Ketenagakerjaan karena pada H-1 dipastikan Pengawas Ketenagakerjaan, manajemen
              dan pekerja sudah libur," katanya.

              Bila pembayaran THR pun dilakukan di H-1, dia menilai bahwa dana THR berpotensi tidak bisa
              dibelanjakan  sehingga  harapan  dana  THR  untuk  mendukung  konsumsi  masyarakat  tidak
              tercapai.

              Timboel juga menilai, perubahan waktu pembayaran THR dari H-7 ke H-1 berpeluang membuat
              pengusaha  yang  terdampak  Covid-19  untuk  mengemplang  bayar  THR  akan  semakin  besar,
              karena tidak diberi ruang untuk membangun kesepakatan membicarakan termin pembayaran.
              "Kalau hanya mengubah waktu pembayaran dari H-7 ke H-1 maka Point 2, 3 dan 4 akan relatif
              percuma, mengingat akan ada kesulitan perusahaan yang terdampak covid-19 untuk membayar
              THR pada H-1," ujar Timboel.

              Walaupun  dalam  aturan  tersebut  juga  memberikan  kewenangan  Gubernur/Walikota/Bupati
              meminta  laporan  keuangan  sebagai  bukti  bahwa  perusahaan  tidak  mampu  membayar  THR,
              Timboel  juga  berpendapat  seharusnya  perusahaan  diberikan  batas  waktu  pembuktian  paling
              lambat H-14 sehingga Pengawas Ketenagakerjaan bisa mendorong kesepakatan dengan pekerja.

              "Karena  tidak  ada  batas  waktu  paling  lambat  maka  bisa  saja  penyerahannya  diberikan  H-8
              sehingga  kesepakatan  akan  sulit  dicapai  karena  waktu  sudah  sempit,  dekat  dengan  H-7,"
              ujarnya.

              Dengan tidak adanya ketentuan waktu, aturan yang memerintahkan Manajemen Perusahaan
              dan Pekerja melaporkan hasil kesepakatan ke Pemerintah H-7 juga akan sulit dilakukan.

              Adapun, dalam SE THR tersebut, pemerintah mewajibkan perusahaan untuk membayar THR
              keagamaan  secara  penuh  paling  lambat  7  hari  sebelum  hari  raya  keagamaan.  Namun,
              perusahaan yang masih terdampak Covid-19 diwajibkan melakukan dialog dengan pekerja/buruh
              untuk  mencapai  kesepakatan.  Kesepakatan  dibuat  secara  tertulis  yang  memuat  waktu
              pembayaran THR keagamaan dengan syarat paling lambat sebelum hari raya keagamaan.

                                                           450
   446   447   448   449   450   451   452   453   454   455   456