Page 473 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 APRIL 2021
P. 473

Ringkasan

              Koordinator  Advokasi  BPJS  Watch  Timboel  Siregar  menilai  Surat  Edaran  (SE)  No.
              M/6/HK.04/IV/2021  tentang  pemberian  THR  di  tahun  2021  yang  dirilis  oleh  Menteri
              Ketenagakerjaan membingungkan. Terutama klausul mengenai Perusahaan bisa membayarkan
              THR paling lambat H-1. Timboel menjelaskan, memang setiap tahun Menteri Ketenagakerjaan
              rutin mengeluarkan SE tentang pemberian THR menjelang Hari Raya Idul Fitri.



              ATURAN BOLEH BAYAR THR H-1 RUGIKAN PERUSAHAAN DAN BURUH

              Jakarta  -  Koordinator  Advokasi  BPJS  Watch  Timboel  Siregar  menilai  Surat  Edaran  (SE)  No.
              M/6/HK.04/IV/2021  tentang  pemberian  THR  di  tahun  2021  yang  dirilis  oleh  Menteri
              Ketenagakerjaan membingungkan. Terutama klausul mengenai Perusahaan bisa membayarkan
              THR paling lambat H-1.

              Timboel menjelaskan, memang setiap tahun Menteri Ketenagakerjaan rutin mengeluarkan SE
              tentang pemberian THR menjelang Hari Raya Idul Fitri.

              "Namun  di  SE  tahun  ini  yang  ditandatangani  tanggal  12  April  2021,  khususnya  yang  terkait
              dengan  perusahaan  yang  terdampak  covid-19  sehingga  tidak  mampu  membayar  THR  2021
              sesuai waktu yang ditentukan, menimbulkan ketidakpastian dan tidak masuk logika berpikir yang
              normal," kata Timboel kepada Liputan6.com, Selasa (13/4/2021).
              Alasannya pada point 1 yakni bagi perusahaan yang tidak mampu dan membuat kesepakatan
              dengan buruh disebutkan kesepakatan dibuat secara tertulis, yang memuat waktu pembayaran
              THR dengan syarat paling lambat dibayar sebelum hari raya keagamaan 2021.

              "Dengan klausula tersebut saya menilai pengusaha yang tidak mampu karena terdampak Covid
              19 dipaksa membayarkan THR paling lambat H-1 (sebelum hari raya). Saya nilai klausula ini
              sangat membingungkan dan sangat sulit dilaksanakan oleh Perusahaan," jelasnya.

              Menurutnya, point 1 ini hanya mengubah waktu pembayaran dari H-7 ke H-1. Point 1 ini tidak
              membuka ruang perusahaan yang tidak mampu untuk mencicilnya.

              Bagaimana logika berpikir yang dibangun dalam SE ini, bila perusahan tidak mampu membayar
              THR pada H-7 karena terdampak Covid dan tidak diberi ruang mencicil, diwajibkan membayar
              THR di H-1.

              "Saya  kira  perusahaan  akan  sangat  sulit  mencari  dana  dalam  waktu  6  hari.  Kewajiban
              pembayaran  H-1  bagi  perusahaan  yang  terdampak  covid-19,  tentunya  akan  juga  menjadi
              masalah  bagi  buruh  karena  bila  H-1  tidak  juga  dibayarkan  oleh  Perusahaan,  apa  yang  bisa
              dilakukan Pengawas Ketenagakerjaan karena pada H-1 dipastikan Pengawas Ketenagakerjaan,
              manajemen dan pekerja sudah libur," ungkapnya.

              Di  sisi  lain,  walaupun  pembayaran  THR  di  H-1  dilakukan.  Maka  kapan  waktu  pekerja  untuk
              berbelanja mempersiapkan makan minum dan kebutuhan anak-anak untuk hari raya, karena
              besoknya  sudah  Hari  Raya.  Dana  THR  berpotensi  tidak  bisa  dibelanjakan  sehingga  harapan
              Menko Perekonomian dana THR untuk mendukung konsumsi masyarakat tidak tercapai.

              "Dengan fakta ini perubahan waktu pembayaran THR https://www.liputan6.com/tag/thr dari H-
              7 ke H-1 maka peluang pengusaha yang terdampak covid-19 untuk mengemplang bayar THR
              akan semakin besar, karena tidak diberi ruang untuk membangun kesepakatan membicarakan
              termin pembayaran," ujarnya.



                                                           472
   468   469   470   471   472   473   474   475   476   477   478