Page 474 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 APRIL 2021
P. 474

Ia menegaskan, jika hanya mengubah waktu pembayaran dari H-7 ke H-1 maka Point lainnya
              akan relatif percuma, mengingat akan ada kesulitan perusahaan yang terdampak covid-19 untuk
              membayar THR pada H-1.

              Kalaupun di poin lain yang memberikan kewenangan Gubernur/Walikota/Bupati meminta laporan
              keuangan  sebagai  bukti  bahwa  perusahaan  tidak  mampu  membayar  THR,  seharusnya
              perusahaan  diberikan  batas  waktu  pembuktian  paling  lambat  H-14,  sehingga  Pengawas
              Ketenagakerjaan bisa mendorong kesepakatan dengan pekerja.

              Karena  tidak  ada  batas  waktu  paling  lambat  maka  bisa  saja  penyerahannya  diberikan  H-8
              sehingga kesepakatan akan sulit dicapai karena waktu sudah sempit, dekat dengan H-7. Dengan
              tidak  adanya  ketentuan  waktu,  maka  Manajemen  dan  Pekerja  yang  melakukan  kesepakatan
              melaporkan hasil kesepakatan ke Pemerintah H-7, akan sulit dilakukan juga.

              Dirinya menilai, SE ini membuat ketidakpastian pembayaran THR bagi buruh oleh perusahaan
              terdampak  covid  semakin  besar,  dan  SE  ini  sepertinya  "jalan  tengah"  yang  diambil  Menteri
              Ketenagakerjaan yang tidak mau "berkonfrontasi" dengan menko Perekonomian yang meminta
              THR tidak boleh dicicil.

              "Menteri  Ketenagakerjaan  bersepakat  dengan  menko  Perekonomian  dengan  mengorbankan
              buruh. Ini salah satu prestasi buruk Menteri Ketenagakerjaan yang gagal memberikan kepastian
              bagi pekerja untuk mendapatkan THR," pungkasnya.




















































                                                           473
   469   470   471   472   473   474   475   476   477   478   479