Page 137 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 DESEMBER 2019
P. 137

dengan aparat. Hampir 6.000 orang ditahan sejak Juni, dengan 30 persen di
               antaranya berusia 21 hingga 25 tahun.


               Yang jadi masalah, dampak dari demonstrasi skala besar tersebut tak memandang
               mereka punya KTP mana. Selain warga lokal yang menghadapi kengerian masa
               depan dalam kungkungan China, BMI di Hong Kong juga terus terdampak
               aktivitasnya.


               "Awalnya teman-teman BMI itu nggak tahu sama sekali apa yang terjadi di Hong
               Kong. Mereka hanya tahu, ini ada demo, udah itu tok, wes," kata Yuli. Sementara,
               katanya, KJRI tak banyak membantu menerangkan dan hanya sebatas mengimbau
               agar menghindari area demonstrasi.

               "Masalahnya, mereka (BMI) tinggal dan bekerja di Hong Kong, bukan yang orang
               datang pagi pulang sore. Mereka tuh tinggal di situ tuh sampai bulanan, tahunan.
               Dan otomatis, untuk melindungi dirinya dan tetap bisa berkegiatan, itu dengan
               mengetahui isu yang ada, memahami situasi terkini," ujar Yuli.

               Dari situ, Migran Pos yang kemudian diawaki oleh enam BMI lain selain Yuli, terus
               memberitakan info demonstrasi secara rutin, bahkan kadang melalui siaran live di
               media sosial. Biasanya, Migran Pos memberitakan jadwal dan lokasi demonstrasi
               secara rutin agar BMI dapat mengantisipasi dan tak terganggu aktivitasnya.

               "Ketika ada isu di HK seperti itu, kita sebagai PRT---atau yang bekerjanya harus
               nganter anak ke sekolah, harus wara-wiri ke sana ke sini---mereka harus tahu titik
               aksi di mana, apa yang akan terjadi hari ini, apa yang terjadi hari esok, transportasi
               bagaimana, apakah MTR akan berhenti, apakah rute bus akan dialihkan. Informasi
               itu dibutuhkan," kata Yuli.

               "Bukan, 'Kamu nggak boleh ke sana, kamu nggak boleh ke sini, nanti bahaya.'
               Bahayanya apa?"

               Meski punya niat baik dengan mendirikan Migran Pos, Yuli mengaku sering
               mengalami cemooh dari sesama BMI sendiri. Cibiran macam, 'Babu nggak usahlah
               nulis soal gitu, itu kan isu orang Hong Kong,' tudingan hoaks macam adanya buruh
               migran yang menjadi demonstran bayaran pelan-pelan mereka tepis.

               "Masalahnya, cara pandang orang Indonesia terhadap PRT itu pasti gini. 'Nggak
               berpendidikan, nggak bisa mikir.' Stigmanya memang seperti itu. Dan stigma buruk
               itu hanya bisa ditepis dengan informasi dan berita yang benar," ujar Yuli.

               Pelan-pelan, apa yang dilakukan Yuli mendapatkan rekognisi. Laman Facebook
               Migran Pos telah diikuti lebih dari 16 ribu orang. Ia punya pembaca setia, terutama
               dari BMI di Hong Kong yang mengandalkan media berbahasa Indonesia untuk tahu
               informasi terkini terkait Hong Kong. Aminah, buruh migran asal Semarang,
               merupakan salah satu yang menikmati pemberitaan dari Migran Pos.








                                                      Page 136 of 176.
   132   133   134   135   136   137   138   139   140   141   142