Page 136 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 DESEMBER 2019
P. 136
"Orang menulis apa sih tentang PRT? Misalnya berita kalau ada PRT mengalami
kecelakaan, diberitakannya pasti karena ceroboh atau ada yang memberitakan
karena bunuh diri. Tidak ada satupun PRT yang pergi untuk mencelakakan dirinya
sendiri," katanya.
"Mungkin," katanya, "Ada hal-hal di balik itu yang nggak dipedulikan, diabaikan, dan
nggak ingin diketahui." Yang dimaksud Yuli adalah pembagian hak dan kewajiban
buruh migran yang kadang tak terdefinisi dengan jelas. Isu seperti tuntutan
kenaikan upah, perbaikan kontrak kerja, juga jam istirahat yang tak jelas.
"Aksi-aksi buruh terakhir itu menuntut kenaikan upah, perbaikan kontrak kerja
dengan memasukkan akomodasi yang layak buat pekerja rumah tangga itu apa.
Makanan yang layak untuk PRT itu apa, jam kerja seharusnya seperti apa," ujar ibu
satu anak itu. Menurutnya, aturan yang mewajibkan PRT untuk tinggal serumah
dengan majikannya mengaburkan batasan waktu kerja.
"Di kontrak tidak tertulis akomodasi yang layak seperti apa. Ketika ada PRT yang
nggak dapat kamar, tidur di dapur, toilet, di lantai, apakah itu layak? Lalu kita harus
live in 24 jam. Lagi tidur dibangunin majikan suruh ini itu ya kita tidak berani
menolak," tambahnya. Minimal, menurutnya, "Kalau nggak mau kasih jam kerja,
kasih jam istirahat."
Itu yang pada akhirnya membuatnya memutuskan untuk memulai aktivitas di
media. Menurutnya, selama ini aksi yang ia dan teman-temannya lakukan di serikat
buruh migran kurang mendapat perhatian yang cukup. Orasi-orasi yang mereka
lakukan ia rasa terhenti pada sebuah pintu yang tertutup.
"Orang nggak tahu tentang aksi kami itu. Jadi kayak udah selesai, lalu hilang. Terus
ini mau gimana? Harusnya orang lain itu lebih melihat. Dan apa yang bisa dilakukan
itu adalah dengan menulis.
"Saya tidak aktif lagi di serikat buruh bukan karena jauh, tapi saya harus mengambil
jalan lain tapi tetap di jalan yang ini untuk membantu teman-temanku. Jadi kayak
mereka yang aksi, saya yang memberitakan. Mereka yang beraksi, saya yang ambil
foto dan video," ujarnya. "Simbiosis mutualisme."
Itulah sebabnya Yuli mulai menulis di media. Sejak Oktober 2018, ia sudah aktif
menjadi kontributor suara.com.hk, media Hong Kong berbahasa Indonesia tempat
jurnalis Veby Mega Indah yang matanya ditembak aparat bekerja. Meski begitu,
sejak 28 Maret 2019, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, Yuli
bersama salah seorang wartawan televisi swasta yang tinggal di Hong Kong,
mendirikan Migran Pos.
Di saat yang sama, muncul aksi protes masyarakat Hong Kong terhadap RUU
Ekstradisi yang, sederhananya, dianggap mengikis kebebasan Hong Kong sebagai
wilayah otonomi khusus. Dimulai pada pertengahan Maret, skala demonstrasi
membesar pada Juni 2019 lalu. Sejak saat itu, tak kurang 900 kali aksi demonstrasi
terjadi di Hong Kong. Aksi demonstran yang damai tak jarang berujung bentrok
Page 135 of 176.

