Page 135 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 DESEMBER 2019
P. 135

Hingga kemudian ia mendengar suara bel pintu berbunyi. Dua laki dan dua
               perempuan dari imigrasi Hong Kong, setelah dipersilakan, masuk dan memberi
               kabar:


               "Tidak usah panik. Masalah kecil. Kamu Yuli kan? Kamu overstay."

               Yuli, yang izin kerjanya tertulis hanya sampai 27 Juli 2019, kemudian digelandang.

               Yuli karib dengan Hong Kong. Sudah 12 tahun ia menetap di sana, menjadi PRT dari
               satu majikan ke majikan lainnya. Kabupaten Jember di pesisir selatan Jawa Timur
               sudah ditinggalkannya saat ia berusia 26 tahun. Hong Kong sudah menjadi rumah
               kedua setelah Indonesia.

               Seperti halnya BMI lain (ada 165 ribu BMI di Hong Kong per Januari 2019, 41
               persen dari seluruh buruh migran domestik di Hong Kong), awalnya Yuli juga aktif
               berkegiatan dalam serikat buruh Indonesia yang berada di Hong Kong. Di situ,
               diberi peran yang disebut sebagai 'legal', yang bertugas menampung curhatan
               masalah dari sesama BMI dan melakukan advokasi dalam berbagai perkara.


               "Dari situ saya stres. Kan nggak mungkin kita udah dicurhatin kemudian diceritain
               ke orang lain, kan nggak etis banget. Saya kemudian menulisnya dalam bentuk
               puisi," ujar Yuli kepada kumparan, Jumat (6/12) di Surabaya.

               Dari situlah hobinya menulis tersalurkan. Sejak 2011, ia mulai rutin menulis puisi
               dan cerpen sebagai upayanya bertahan. "Kalau dipikir, menulis itu bukan karena
               biar dibaca orang. Tapi saya melakukan healing. Menulis itu kayak buang sesuatu di
               dada, membantu diri sendiri, melepaskan emosi dan unek-unek yang nggak
               mungkin diceritakan ke orang lain," kata Yuli.

               Tulisannya mendapat pengakuan pada 2018 lalu. Yuli menerima penghargaan dari
               Taiwan Migrant Literature Award yang diselenggarakan oleh Kementerian
               Kebudayaan Taiwan setiap tahunnya untuk cerpen berjudul Luka itu Masih Ada di
               Tubuhku.


               Juri mencatat, cerpen Yuli "...memiliki kekuatan bahasa sastra yang sangat baik [...]
               yang juga terlihat empati si penulis pada perempuan-perempuan pekerja migran
               yang mengalami pengalaman serupa dengannya."


               Yuli tak berhenti. Meski getol menulis fiksi, ia melahap hampir segala macam
               bacaan. Ini tak terkecuali berita terkini soal buruh migran, Hong Kong, dan isu-isu
               faktual di tanah kelahirannya Indonesia. Di titik ini, naluri Yuli terganggu.


               "Membaca berita itu membuat saya gelisah. Kenapa yang diberitain cuma gini-gini
               aja? Apalagi yang memberitakan seputar kehidupan PRT," kata Yuli memulai
               ceritanya. Menurutnya, pemberitaan media soal PRT tak pernah benar-benar tepat
               dan selalu gagal lepas dari stigma buruk soal PRT itu sendiri.








                                                      Page 134 of 176.
   130   131   132   133   134   135   136   137   138   139   140