Page 134 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 DESEMBER 2019
P. 134
Title CERITA YULI RISWATI BERHENTI DI DEPORTASI
Media Name kumparan.com
Pub. Date 13 Desember 2019
https://kumparan.com/kumparannews/cerita-yuli-riswati-berhenti-di-depo rtasi-
Page/URL
1sRA07R1udW
Media Type Pers Online
Sentiment Positive
CERITA YULI RISWATI BERHENTI DI DEPORTASI
Buruh migran dari Jember itu dipaksa pulang. Banyak anggapan, tulisan Yuli di
Migran Pos soal demo Hong Kong jadi penyebab.
23 September, pukul 17.00. Di hadapannya adalah ikan dan sayuran, baru bersih ia
cuci. Ia mulai memasak meski tak buru-buru. Cukup waktu bagi Yuli Riswati
menyiapkan santap malam buat majikannya dua jam lagi.
Hari masih Senin. Masih yang pertama dari jadwal 6-hari-kerja-1-hari-libur bagi
pekerja rumah tangga di Hong Kong macam dirinya. Seperti pekerja domestik
lainnya, jam kerjanya dimulai pagi-pagi sekali. Tugas utamanya adalah menjaga
lansia, seorang nenek umur 89 tahun sesepuh majikannya. Bangun tidur, ia akan
sembahyang dan bergegas menemani si nenek senam Tai Chi di taman.
Di luar menjaga si nenek, Yuli juga akan menyiapkan sarapan, bersih-bersih,
belanja, memasak makan malam, dan segala tugas printilan yang ia dapat sesuai
permintaan majikannya. Pekerja rumah tangga (PRT) sepertinya punya peraturan
harus bekerja dan tinggal di alamat yang sama, live in 24 jam. Tak ada batasan
jelas soal jam kerja. Ini membuat mereka tak bisa menolak bahkan ketika majikan
membangunkan mereka yang sedang tidur untuk mengurus ini itu.
Kecuali, tentu saja, sekali libur setiap Minggu yang amat berharga. Kebanyakan
buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong akan berlibur dan jauh-jauh dari
rumah: ke Victoria Park, ke Avenue of Star, sampai ke Repulse Bay. Yang lain akan
berkumpul dengan teman BMI-nya dari daerah yang sama, berserikat, atau pada
organisasi penyaluran hobi mereka seperti menari, make up, sampai fotografi.
Yuli sendiri, biasanya tiap Minggu pagi, akan mengobrol soal buku-buku jurnalisme
yang telah mereka beli sembari ngopi dengan enam temannya. Mereka adalah
personel yang menggerakkan Migran Pos, media dengan fokus kehidupan buruh
migran di Hong Kong yang didirikan Yuli Maret 2019.
Mereka akan berbagi hasil bacaan, berdiskusi, berbagi 'penugasan' apa yang harus
diliput dan ditulis seminggu ke depan. Misalnya soal kegiatan serikat buruh migran
di Hong Kong, destinasi wisata, tempat makan yang enak, sampai demonstrasi di
Hong Kong yang terus mengental.
Tapi ini masih hari Senin, enam hari lagi untuk punya waktu berkumpul dengan
teman-temannya. Di hadapan Yuli adalah ikan dan sayuran, dan ia tak
membayangkan akan diperiksa sampai tengah malam di Departemen Imigrasi
Kowloon Bay malam itu.
Page 133 of 176.

