Page 139 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 DESEMBER 2019
P. 139

Pada Senin (4/11), dalam sidang keduanya, Yuli dinyatakan bersalah melanggar izin
               tinggal dan hanya diperingatkan bahwa dalam satu tahun ke depan tidak boleh
               melakukan pelanggaran hukum atau berkelakuan buruk atau ia akan didenda.


               "Masalah timbul ketika saya pergi ke Kowloon untuk mengambil dokumen, ternyata
               dokumen sudah dilimpahkan ke Castle Peak Bay Immigration Center.Itu tempat
               warga asing ilegal yang akan dideportasi," kata Yuli.


               Di situ, ia justru ditahan meski pengadilan tak menyatakan hukuman apapun.
               Permohonan untuk penangguhan penahanan juga ditolak dengan alasan tidak ada
               penjamin meski majikannya telah berulang kali meminta agar Yuli diizinkan tinggal
               di rumahnya. Yuli ditahan selama 28 hari di sel bersama para kriminal, tanpa air
               panas untuk mandi di tengah cuaca dingin, tanpa perhatian medis, dan tanpa
               penjelasan mengapa ia ditahan.

               Penahanan tersebut berakhir pada Senin (2/12), setelah Yuli dua kali dipaksa
               membuat pernyataan bahwa ia ingin dipulangkan ke Indonesia hari itu juga.

               Bagi Yuli Hong Kong sudah jadi rumah keduanya.

               Meski begitu, rumah keduanya itu tak mau sepenuhnya menerima orang-orang
               macam Yuli. Gaji mereka tak setinggi buruh lokal (dengan margin hampir 100 USD
               per bulannya). Ia, sebagaimana lebih dari 380 ribu PRT migran dari berbagai
               negara, juga tidak mungkin mendapatkan status Permanent Residency. Padahal,
               pekerja migran lain yang bekerja sebagai bankir atau dosen berhak mendapat status
               tersebut setelah tinggal tujuh tahun di Hong Kong.


               Dalam jurnal berjudul Focussing the Familiar? Locating the Foreign Domestic Worker
               in Postcolonial Hong Kong Discourse (2011), Galvin Chia berargumen bahwa hierarki
               sosial-ekonomi semacam ini mempertahankan pandangan PRT migran di Hong Kong
               selaku kelompok "kelas dua" dan bukan bagian dari komunitas lokal. Tak
               mengherankan ketika kemudian warga kelas dua itu punya posisi tawar yang amat
               rendah ketika berkasus dalam perkara apapun, termasuk dalam hal right of abode.

               Kini Yuli masih tinggal di Surabaya untuk proses hukum yang ia tengah upayakan
               bersama LBH Surabaya. Ia masih menjalani perawatan medis dan ke psikiater atas
               trauma yang ditimbulkan pada masa penahanannya selama 28 hari.

               Awal pekan ini (11/12) tim kuasa hukumnya telah melayangkan surat laporan resmi
               ke Loka Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (LP3TKI)
               yang akan diteruskan ke Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga
               Kerja Indonesia (BNP2TKI).


               Habibus Shalihin dari LBH Surabaya mengecam keras perlakuan terhadap Yuli dan
               menyayangkan tidak adanya perlindungan dari Pemerintah Indonesia terhadap Yuli
               selama ia berada di Hong Kong.








                                                      Page 138 of 176.
   134   135   136   137   138   139   140   141   142   143   144