Page 144 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 DESEMBER 2019
P. 144
Seperti apa situasi Hong Kong bagi buruh migran Indonesia, dan bagaimana
tanggapan migrant care terkait kasus deportasi Yuli. Berikut wawancara kumparan
dengan Anis:
Bagaimana kondisi buruh migran Indonesia di Hong Kong?
Sebenarnya Hongkong itu termasuk negara yang selama ini mengakui kebebasan
berekspresi. Jadi makanya kemudian gerakan buruh migran itu kan tumbuhnya dari
sana. Jadi orang berserikat, orang membangun organisasi dengan visi yang macam-
macam, apakah soal perjuangan buruh migrannya sendiri, soal kedaerahan, soal
seni budaya, soal jaringan untuk agama, karena juga banyak sekali jamaah-jamaah
seperti itu.
Jadi Hongkong sebenarnya representasi negara yang merekognisi kebebasan
berekspresi bagi pekerja asing, termasuk di dalamnya pekerja migran. Makanya
kemudian Victoria Park itu menjadi salah satu area di mana mereka banyak
melakukan aktivitas apapun, termasuk menulis dan lain sebagainya. Jadi puluhan
tahun, teman-teman yang selama ini tergabung dengan jaringan atau gerakan
buruh migran itu ya tumbuh di sana.
Tetapi ternyata, mereka sangat represif ketika menyangkut urusan nasional mereka
ya, soal politik. Tapi sesungguhnya ini kontradiksi gitu dengan apa yang selama ini
berlangsung di Hongkong. Dan sebenarnya dalam kasus ini bukan hanya Yuli saja,
karena sebelumnya Veby Mega juga ditembak matanya. Kalau tertembak sih
enggak, ditembak. Karena Suara itu memberitakan demo Hongkong sangat intensif,
mendalam, beberapa kali siaran langsung dan sebagainya. Jadi represi mereka itu
karena itu menyangkut politik nasional mereka.
Veby Mega adalah Jurnalis asal Indonesia yang meliput demo di Hong Kong. Dia
merupakan redaktur Harian Suara, koran berbahasa Indonesia yang lumayan
populer di kalangan buruh migran Hong Kong asal Indonesia. Mata kanan Veby
terkena tembakan polisi saat meliput demo Hong Kong pada Minggu (29/9).
Memangnya sebelum aksi demonstrasi Hong Kong kondisinya lebih
bebas?
Ya setahu kita iya. Tetapi menyangkut soal kepentingan politik nasional mereka,
memang represif. Kan banyak juga masyarakat sipil yang melakukan aksi payung itu
juga banyak yang mengalami, ada yang meninggal, ada yang ditangkap, ada yang
mengalami kekerasan. Jadi ini bagian dari resistensi Hongkong atas situasi politik
mereka.
Seberapa banyak buruh migran Indonesia yang ada di Hongkong?
Di Hongkong itu sekitar 180-an ribu pekerja migran di Hongkong. Terbesar kedua
setelah Filipina. Filipina di atas 200 ribu, jadi kita masih nomor 2. Jadi kalau dari sisi
angka ya kita punya bargaining-lah.
Page 143 of 176.

