Page 140 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 DESEMBER 2019
P. 140

"Tidak ada peran negara sama sekali untuk melakukan perlindungan, tidak ada
               sama sekali untuk memberikan pendampingan, tidak ada negara selama proses
               hukum saat Mbak Yuli dihadapkan di pengadilan," ujar Habibus dalam konferensi
               pers di Kantor LBH Surabaya, Jumat (6/12).


               "Ini yang kemudian perlu dipertanyakan, keseriusan negara dalam menangani
               kasus-kasus seperti ini," tambahnya.


               Sementara itu, Judha Nugraha, Direktur Perlindungan WNI & BHI Kementerian Luar
               Negeri Republik Indonesia menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan
               pendampingan dalam proses pengadilan Hong Kong.


               "Saudara Yuli sudah memilih sendiri pengacaranya. Pejabat KJRI kemudian hadir di
               persidangan, ini sebagai bentuk pendampingan kita untuk memastikan bahwa hak-
               hak yang bersangkutan dipenuhi oleh otoritas Hong Kong, ujar Judha kepada
               kumparan di Direktorat Perlindungan WNI & BHI, Kementerian Luar Negeri, Jakarta
               Pusat, Kamis (5/12).

               Sementara itu, untuk 'kasus spesial' yang disebut Yuli terjadi pada dirinya, Judha tak
               mau terlalu jauh berkomentar.

               "Yang kami pantau memang yang bersangkutan juga punya aktivitas. Tapi kami
               tidak ingin berspekulasi apakah itu kemudian terkait dengan kasus hukumnya.
               Informasi yang kita terima adalah yang bersangkutan melakukan pelanggaran
               keimigrasian, sudah terbukti di pengadilan bahwa dia overstay dan tidak
               memperpanjang izin tinggal," ujar Judha.


               Meski begitu, bagi Anis Hidayah dari Migrant CARE, kejadian yang dialami Yuli ini
               bisa menjadi pengingat bagi aktivis buruh migran yang ada di negara manapun.

               Sebenarnya Hong Kong adalah representasi negara yang merekognisi kebebasan
               berekspresi bagi pekerja asing, termasuk di dalamnya pekerja migran. Makanya
               kemudian Victoria Park itu menjadi salah satu area di mana mereka banyak
               melakukan aktivitas apapun, termasuk menulis dan lain sebagainya," ujar Anis
               kepada kumparan, Kamis (5/12), di Gedung LPSK, Jakarta Timur.

               Menurut Anis, selama ini justru jaringan dan gerakan buruh migran tumbuh dari
               Hong Kong. Namun begitu, katanya, ada kontradiksi yang terjadi pada Hong Kong
               dalam kasus beberapa bulan terakhir. "Ternyata, mereka sangat represif ketika
               menyangkut nasionalitas mereka. Bukan hanya Yuli saja, karena sebelumnya Veby
               Mega juga ditembak matanya," tambahnya.

               "Tapi sebenarnya itu jadi pelajaran berharga bagi teman-teman yang aktif
               menyuarakan demokrasi dan HAM di negara orang. Itu harus memperhatikan betul
               dokumen tinggal, karena jangan sampai itu justru jadi alat yang mudah digunakan
               untuk mematahkan mereka," ujar Anis.







                                                      Page 139 of 176.
   135   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145