Page 71 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 JANUARI 2020
P. 71

Title          KSPI SEBUT OMNIBUS LAW HANYA AKOMODIR KEPENTINGAN PENGUSAHA
               Media Name     kompas.com
               Pub. Date      26 Januari 2020
                              https://money.kompas.com/read/2020/01/26/190200226/kspi-sebut-omnibus- law-
               Page/URL
                              hanya-akomodir-kepentingan-pengusaha
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative










               Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menilai pemerintah
               terkesan tertutup dalam menyusun Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Cipta
               Lapangan kerja. Dia merasa aspirasi dari para buruh tak didengar pemerintah dalam
               menyusun aturan tersebut. Terutama terkait ketenagakerjaan.

               "Setiap pembahasan hukum harus terbuka melibatkan semua pemangku kepentingan,
               proses omnibus law ini tidak dilalaui, dengan demikian ini tertutup, penuh dengan
               rekayasa," ujar Said dalam sebuah diskusi di Jakarta, Minggu (26/1/2020).


               Selain itu, Said juga menilai Omnibus Law ini dibentuk hanya untuk mengakomodir
               kepentingan pengusaha saja.


               "Ini hanya mementingkan kepentingan sekelompok orang saja dalam hal ini kawan-
               kawan pengusaha," kata Said.


               Said mencontohkan, dalam merumuskan omnibus law cipta lapangan kerja pemerintah
               telah membuat satuan tugas (Satgas). Namun, Satgas tersebut didominasi oleh para
               pengusaha.

               "Menko Perekonomian membentuk satgas omnibus law yang diketuai oleh Ketum Kadin,
               anggotanya 22 asosiasi pengusaha, para gubernur yang kami dengan juga tidak terlibat
               secara aktif dan juga para rektor," ucap dia.

               Atas dasar itu, Said menegaskan KSPI menolak dibentuknya Omnibus Law Cipta
               Lapangan Kerja ini. Sebelumnya, Draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law
               Cipta Lapangan Kerja disebut telah beredar ke publik. Sejumlah pasal di dalam draf
               tersebut pun menuai polemik.


               Salah satunya yaitu rencana penerapan skema upah per jam. Seperti diketahui, sistem
               pengupahan yang berlaku saat ini adalah upah minimum, bukan upah per jam. Ada
               enam hal yang menjadi dasar penolakan buruh terhadap RUU tersebut. Selain persoalan
               pengupahan, ada pula wacana penghapusan pesangon dan diganti dengan tunjangan
               PHK yang jumlahnya jauh lebih kecil.


               Kemudian, kekhawatiran banjirnya tenaga kerja asing yang tidak memiliki keterampilan,
               hilangnya sanksi bagi perusahaan yang membayar upah pekerja di bawah upah
               minimum, hilangnya jaminan kesehatan dan pensiun, hingga sistem outsourching yang
               lebih bebas.




                                                       Page 70 of 163.
   66   67   68   69   70   71   72   73   74   75   76