Page 61 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 SEPTEMBER 2021
P. 61

Puluhan  penyandang  disabilitas  bernaung  di  rumah  ini.  Sebagian  besar  adalah  penyandang
              disabilitas intelektual dan mental. Ada juga penyandang disabilitas ganda atau perpaduan dari
              keduanya.

              Ide membuat  Kedaibilitas  berawal  saat  Andi  menjadi  guru  di  sebuah  sekolah  inklusi  di  Kota
              Malang,  Jawa  Timur.  Di  sekolah  ini,  Andi  banyak  berinteraksi  dan  mendampingi  anak-anak
              berkebutuhan khusus.

              Hal  ini  membuat  Andi  terpanggil  untuk  fokus mendampingi  para penyandang  disabilitas  dan
              memutuskan menjadi pendamping di sebuah lembaga pendidikan warga negara berkebutuhan
              khusus di Surabaya.

              Kecintaannya pada para penyandang disabilitas kemudian menggerakkan dirinya membuat unit
              usaha untuk memberdayakan mereka. "Setiap anak-anak berkebutuhan khusus, pasti mereka
              punya satu potensi minimal. Pasti ada itu," katanya.

              Andi menamai unit usahanya Kedaibilitas. Ia lalu mengajak sejumlah penyandang disabilitas usia
              17-30 tahun untuk bergabung. Andi dan para pendamping kemudian mendidik para penyandang
              disabilitas untuk bekerja dan berwirausaha. Mulai dari belanja bahan mentah di pasar, produksi
              hingga memasarkannya.

              Jika  sebelumnya  para  penyandang  disabilitas  hanya  belajar  teori  di  lembaga  pendidikan,  di
              tempat ini mereka harus mempraktikan dan terjun langsung ke masyarakat.

              "Kami mengajarkan mereka dari awal sampai akhir. Saat belanja sampai memasarkan. Mereka
              yang melakukan. Biar mereka bisa berinteraksi. Kami ajak mereka ke dunia nyata, bukan dunia
              sinetron," kata Andi menjelaskan.

              Menurut Andi, sampai saat ini masyarakat masih memandang penyandang disabilitas dengan
              sebelah mata dan memperlakukan mereka sebagai warga negara kelas dua. Untuk itu, para
              penyandang disabilitas harus terjun ke masyarakat agar mentalnya kuat. Di sisi lain hal itu juga
              sebagai upaya mendidik masyarakat agar bisa memandang dan memperlakukan penyandang
              disabilitas setara.

              "Mereka butuh berinteraksi dengan dunia nyata. Jadi ketika mereka keluar itu enggak dipandang
              sebelah mata oleh masyarakat," ujarnya menambahkan.

              Semua penyandang disabilitas yang bekerja di Kedaibilitas terlibat langsung melayani pembeli.
              Mulai  dari  mencatat  pesanan,  menyiapkan  minuman  dan  makanan,  mengantarkan,  hingga
              menerima pembayaran. Para tamu yang berasal dari beragam kalangan bisa bercengkrama dan
              berbincang langsung dengan para penyandang disabilitas ini. Konsep ini, diyakini Andi dapat
              menciptakan interaksi dan lingkungan yang inklusif.

              "Peran kami di situ, selain mengedukasi anak-anak ini, kami juga mengedukasi masyarakat, biar
              terbentuk lingkungan inklusif, yang ramah disabilitas," ujarnya menambahkan.

              Bagi Andi, tujuan utama Kedaibilitas bukan mencari profit. Namun, membuat para penyandang
              disabilitas siap menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.

              Kepala  Bidang  Penempatan  dan  Perluasan  Kesempatan  Kerja  Dinas  tenaga  Kerja  dan
              Transmigrasi (Disnakertrans) Jatim, Sunarya, mengatakan penyerapan tenaga kerja disabilitas
              sebenarnya sudah diatur di UU Nomor 8 Tahun 2016. Namun implementasinya ternyata masih
              jauh dari harapan.





                                                           60
   56   57   58   59   60   61   62   63   64   65   66