Page 64 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 SEPTEMBER 2021
P. 64

dari  lapangan  kerja  informal  antara  lain  bersifat  tidak  tetap,  upah  rendah,  bahkan  tidak
              mendapat  kompensasi  sama  sekali,  dan  memiliki  tingkat  produkitvitas  yang  rendah.  Dengan
              berkurangnya  lapangan  kerja  formal,  maka  mau  tidak  mau  para  penganggur  terdidik  akan
              mencari alternatif lain untuk mensiasatinya, salah satunya beralih ke lapangan kerja informal.

              Ketiga, tidak sinkronnya antara pendidikan dengan kebutuhan pasar pun menjadi salah satu
              penyebab mengapa pengangguran terdidik terus meningkat dari tahun ke tahun. Argumen ini
              biasa  diungkapkan  oleh  para  pakar  pendidikan  di  dalam  negeri.  Argumen  ini  kurang  lebih
              menyatakan bahwa pendidikan tinggi Indonesia kurang lebih memberikan pelatihan dan ilmu
              yang sesuai dengan tuntutan pasar kerja. Mereka terkesan mengejar kuantitas lulusan tanpa
              memperhatikan kualitas para lulusan. Implikasinya adalah perlu ada penambahan pendidikan
              agar sesuai dengan permintaan pasar kerja yang ada, untuk mengurangi penganggur angkatan
              kerja terdidik.

              Belajar pada negara maju Belajar pada negara-negara maju lainnya, pendidikan kewirausahaan
              mendapatkan  perhatian  yang  lebih  dengan  mempertimbangkan  lima  kebijakan  mendasar.
              Pertama,  pembuatan  rencana  usaha  dengan  mengarahkan  siswa/mahasiswa  untuk
              menggabungkan akuntasi, ekonomi, keuangan, pamasaran dan disiplin bisnis lainnya. Sehingga
              menjadikan pengalaman pendidikan yang terpadu dan memperkaya wawasan dan pengalaman
              sekaligus. Kedua, pendidikan kewirausahaan dapat mempromosikan pendirian usaha baru oleh
              lulusan atau memperkuat prospek penerimaan kerja dan keberhasilan lulusan di pasar tenaga
              kerja.  Ketiga,  pendidikan  kewirausahaan  dapat  mempromosikan  transfer  teknologi  dan
              perguruan  tinggi  ke  pasar  melalui  pengembangan  rencana  usaha  yang  berbasis  teknologi.
              Keempat,  pendidikan  kewirausahaan  menciptakan  hubungan  antara  komunitas  bisnis  dan
              komunitas perguruan tinggi. Pendidikan kewirausahaan dipandang oleh pemimpin usaha sebagai
              aplikasi  pendekatan  yang  bermanfaat  untuk  belajar  bisnis  dan  ekonomi,  dan  mereka  telah
              membuka  diri  bersedia  mendanai  program  kewirausahaan  serta  menyediakan  tempat  untuk
              magang.  Kelima,  karena  tidak  ada  pendekatan  yang  baku  untuk  pendidikan  ini  dan
              kewirausahaan berada di luar batas disiplin ilmu tradisional, maka memungkinkan sekali untuk
              melakukan percobaan-percobaan pada kulikulumnya (Charney dan Libecap, 2000).

              Atas  dasar  paradigma  di  atas,  pendidikan  kewirausahaan  mestinya  berjalan  secara
              berkesinambungan serta menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh proses pendidikan baik di
              sekolah  maupun  di  perguruan  tinggi.  Upaya  tersebut  perlu  dilakukan  untuk  mengatasi
              pengangguran  terdidik  yang  terus  meningkat  dari  tahun  ketahun.  Salah  satunya,  misalnya,
              dengan  menyiapkan  lulusan  sekolah  tinggi/perguruan  tinggi  yang  tidak  hanya  berorientasi
              sebagai  pencari  kerja,  tetapi  juga  sebagai  pencipta  lapangan  pekerjaan.  Dalam  konteks  ini,
              sesungguhnya  lembaga  pendidikan  kita  memiliki  peran  yang  strategis  dan  signifikan  dalam
              mengatasi problem akut ini.

              Secara ekplisit ketentuan yuridis yang berkaitan dengan perlunya setiap lembaga pendidikan
              terutama perguruan tinggi untuk lebih memberikan orientasi pendidikannya kepada peserta didik
              pada wilayah pengayaan sikap kemandirian dan jiwa kewirausahawan begitu jelas dalam pasal
              3  SK  Mendiknas  No.  232/U/2002  tentang  arah  perguruan  tinggi.  Yakni  bagaimana  lulusan
              perguruan tinggi diarahkan menjadikan lulusan yang berkualifikasi menguasai dan menerapkan
              dasar-dasar  ilmiah  dan  keterampilan  pada  bidang  keahliannya,  mampu  memahami  dan
              menyelesaikan masalah dalam kawasan keahliannya untuk kegiatan produktif dan bermanfaat
              bagi kehidupan bersama. Dan sampai saat ini ketentuan di atas tidak pernah direvisi pemerintah.

              Melihat  pergeseran  pemikiran  di  atas,  lembaga  pendidikan  kita,  khususnya  perguruan  tinggi
              dituntut  untuk  menciptakan  dan  mendesain  pola  dan  proses kegiatan belajar-mengajar  agar
              menjadi lebih aplikatif dan menstimulasi keinginan mahasiswa untuk berwirausaha. Salah satu
              mata  kuliah yang diajarkan  dalam konteks  ini  adalah  mata kuliah  kewirausahaan.  Di  hampir


                                                           63
   59   60   61   62   63   64   65   66   67   68   69