Page 387 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 MEI 2020
P. 387

bersama anak-anak yang lain, memberi support sama teman-teman yang lain biar
               semangat terus, biar semangat untuk memperjuangkan hak-hak karyawan," ujar
               Mansyur.

               Mansyur kini sehari-hari sibuk bersama istrinya merawat anak-anak, yang berusia 8
               tahun, 5 tahun, dan 5 bulan, dan mengerjakan pekerjaan rumah. Keluarganya kini
               mengandalkan uang tabungannya, namun ia memprediksi itu akan habis dalam satu
               bulan ke depan.

               "Kemungkinan satu bulan ini saja, habis sudah. Setiap bulan bayar kontrakan,
               sepeda motor, lampu [listrik]. Istri mau nggak mau harus menerima. Sangat sedih
               sekali, kita sebagai orang tua tidak punya baju baru dan yang lain [saat Lebaran]
               nggak masalah, cuma kita lihat anak istri sangat sedih," ujar Mansyur.

               `Tak punya tabungan`

               Neng Hasanah di Sukabumi, Jawa Barat, juga baru-baru ini kehilangan
               pekerjaannya di sebuah pabrik garmen yang memproduksi pakaian jadi untuk merek
               internasional. Kontraknya tidak diperpanjang sejak 13 Maret meski ia telah bekerja
               di pabrik tersebut selama dua tahun.

               "Atasan [saya] bilang `harap kalian semua mengerti, bukan apa-apa, ini kan barang
               [pasokannya] berkurang`, katanya begitu," kata perempuan berusia 32 tahun
               tersebut.

               "Kalau yang dirumahkan tidak terlalu banyak juga, kemarin ada 400 orang yang
               keluar, yang kontraknya habis."

               Ibu dua anak mengatakan saat ini ia pusing memikirkan bagaimana memberi uang
               saku anak-anaknya dan membayar pengeluaran setiap bulan seperti cicilan sepeda
               motor, televisi dan pengeras suara. Suami Neng bekerja serabutan dan dibayar
               setiap dua minggu sekali, katanya. Keluarganya juga tidak memiliki tabungan.

               "Kalau kesulitan mah kesulitan, bingung ya. Kalau bulan puasa mah banyak
               pengeluaran, risiko juga double. Risiko sehari-sehari seperti jajan anak. Biasanya
               satu hari [uang jajan untuk] anak paling besar dikasih Rp40.000 atau Rp30.000,
               sekarang jadi Rp15.000 atau Rp10.000, karena kalau nggak ada sama sekali ya
               nggak ada," ujar Neng.

               Menurut Neng, ada kemungkinan perusahaan tempatnya bekerja tidak sanggup
               membayar uang Tunjangan Hari Raya (THR) para pekerjanya, sehingga ia melepas
               buruh kontrak.

               "Kemarin waktu habis kontrak, dibilang akan dirumahkan satu minggu, tapi [ketika
               saya] mau masuk lagi, katanya diistirahatkan satu bulan, sampai sekarang saya
               belum masuk lagi. Bahkan yang masih ada kontrak 3 bulan, 6 bulan itu dikeluarin,
               tapi tidak semua," kata Neng. "Mungkin karena nggak mau ngasih uang THR, akibat



                                                      Page 386 of 695.
   382   383   384   385   386   387   388   389   390   391   392