Page 490 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 490

Hal  tersebut  mendorong  Kowani  bersama  dengan  JALA  (Jaringan  Nasional  Advokasi)  PRT,
              Komnas Perempuan mengadakan Webinar nasional membahas RUU PRT. Dimana salah satunya
              fokus pada perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (Jamsostek).



              KOWANI ANGKAT URGENSI PERLINDUNGAN JAMSOSTEK BAGI PEKERJA
              RUMAHTANGGA

              balitribune.co.id | Gianyar - Pekerja rumahtangga (PRT) merupakan salah satu jenis pekerjaan
              yang dibutuhkan, terutama di era modern seperti saat ini. Namun pekerjaan ini sepertinya masih
              dipandang sebelah mata oleh berbagai pihak, termasuk pemberi kerjanya. Dikatakan demikian
              karena pekerjaan PRT masih jauh dari kata layak jika dilihat dari sisi kesejahteraannya.

              Hal  tersebut  mendorong  Kowani  bersama  dengan  JALA  (Jaringan  Nasional  Advokasi)  PRT,
              Komnas Perempuan mengadakan Webinar nasional membahas RUU PRT. Dimana salah satunya
              fokus pada perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (Jamsostek).

              Kegiatan  ini  dilakukan  secara  daring  dan  mengangkat  tema  Gerakan  Ibu  Bangsa  untuk
              Perlindungan PRT yang dibuka oleh Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah dan Ketua Kowani
              (Kongres Wanita Indonesia) Giwo Rubianto.

              Kegiatan ini juga menghadirkan Direktur Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK),
              Zainudin  sebagai  salah  satu  narasumber.  Upaya  itu  dilakukan  untuk  menunjukkan  bahwa
              pekerjaan tersebut butuh perhatian serius, khususnya dari pemerintah terkait jaminan sosial
              untuk PRT.

              Saat  membuka  Webinar,  Ida  Fauziah  mengatakan  kolaborasi  yang  dilakukan  untuk  kegiatan
              peluncuran program Jamsostek bagi PRT ini sangat luar biasa. “Keberadaan PRT saat ini sangat
              penting dalam mendukung kegiatan rumahtangga sehari-hari, dan yang terpenting juga dapat
              menyerap tenaga kerja yang sangat banyak terutama dari kalangan wanita,” terangnya.

              Menurutnya, PRT seringkali bekerja dalam situasi yang kurang layak, seperti jam kerja rata-rata
              lebih panjang, tidak ada hari libur, rentan mengalami diskriminasi dan pelecehan serta tidak ada
              jaminan  sosial  maupun  asuransi  bagi  mereka.  Dirinya  menekankan  urgensi  memiliki  kontrak
              kerja antara pemberi kerja dengan PRT untuk melindungi PRT dan menjamin hak-haknya.

              Zainudin menekankan jaminan sosial itu penting bagi pekerja, dan PRT merupakan salah satu
              profesi yang perlu untuk diberikan perlindungan jaminan sosial. Idealnya perlindungan jaminan
              sosial itu sudah dimulai sejak lahir hingga sepanjang hayatnya.

              Ketua Umum Kowani, Giwo Rubianto, menegaskan pihaknya akan terus membangun gerakan
              solidaritas kemanusiaan untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan publik serta pengakuan
              terkait  pekerjaan  kerumahtanggaan.  Berdasarkan  data  Badan  Pusat  Statistik  diketahui  pada
              Februari 2021 jumlah pekerja informal di Indonesia terus mengalami peningkatan dan saat data
              tersebut  diambil,  jumlahnya  sudah  mencapai  78,14  juta  pekerja  informal.  Data  terakhir
              berdasarkan survei yang pernah dilakukan oleh ILO (International Labour Organization) pada
              2015 silam mengungkap bahwa di Indonesia profesi PRT dijalani oleh 4,2 juta pekerja dan 84%
              di antaranya adalah wanita.
              Dilihat dari angka tersebut, 4,2 juta PRT yang ada di Indonesia sejak 2015 hampir dipastikan
              bertambah jumlahnya di 2021. Kategori ini hampir tidak terjamah oleh perlindungan jaminan
              sosial, baik kesehatan maupun ketenagakerjaan. Survei yang dilakukan di 6 kota terhadap 4296
              PRT oleh JALA PRT pada 2019 yang lalu mengungkap bahwa, 89% PRT tidak mendapatkan
              jaminan  kesehatan  sebagai  peserta  PBI  (Penerima  Bantuan  Iuran)  dan  99%  tidak  memiliki

                                                           489
   485   486   487   488   489   490   491   492   493   494   495