Page 304 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 304

Para pilot menolak keputusan PHK dan mengajukan perundingan bipartit, tapi Lion Air Group
              menolak  dengan  alasan  hubungan  antara  pilot  dan  perusahaan  bukan  hubungan  kerja,
              melainkan  hubungan  keperdataan  sehingga  perusahaan  berhak  memutus  hubungan  tanpa
              perundingan bipartit.

              Para pilot lantas membawa masalah ini ke Suku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota
              Administrasi  Jakarta  Pusat.  Para  pilot  menyatakan  menerima  PHK  asalkan  hak-haknya
              sebagaimana  diatur  dalam  UU  Ketenagakerjaan  dipenuhi.  Namun,  Lion Air  menolak  dengan
              alasan yang sama.

              Sudin Disnakertrans Jakarta Pusat selaku mediator lantas menganjurkan secara resmi dalam
              sebuah surat, yang intinya meminta Lion Air Group membayar pesangon, uang penghargaan
              masa kerja, dan uang penggantian hak sebagaimana diatur dalam UU Ketenagakerjaan.
              Lion Air Group tak kunjung menunaikan anjuran itu. Maka, para pilot menggugat ke Pengadilan
              Hubungan Industrial di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

              Selain soal pesangon, para pilot menuntut agar THR sebesar satu kali gaji dibayar. Perusahaan
              juga diminta melunasi kekurangan pembayaran iuran jaminan hari tua BPJS Ketenagakerjaan
              sesuai upah para pilot sebenarnya.

              Proses  Gugatan  Pilot  di  Pengadilan    Merujuk  pada  bagian  permohonan  dalam  putusan
              Pengadilan  Perselisihan  Hubungan  Industrial  (PHI)  tingkat  pertama  bernomor  51/Pdt.Sus-
              PHI/2017/PN.JKT.PST,  pangkal  masalahnya  adalah  fasilitas  transportasi  antar-jemput  dan
              tunjangan uang transport bagi penerbang. Seharusnya, uang transport bagi pilot dibayar di
              muka atau deposit dengan jumlah 15 kali tarif pulang-pergi berdasarkan zona tempat tinggal
              masing-masing. Pembayaran itu dilakukan dengan mekanisme transfer bank setiap tanggal 5
              bulan berjalan.

              Pada Mei 2016, tanggal 5 jatuh pada hari libur nasional (hari Kamis, kenaikan Yesus Kristus),
              sementara esoknya juga hari libur (Isra Mikraj Nabi Muhammad). Merujuk pada SK Presiden
              Lion  Air  Group  pada  14  Maret,  jika  tanggal  transfer  uang  transport  jatuh  pada  hari  libur,
              seharusnya transfer dilakukan pada hari kerja berikutnya--dalam hal ini pada 9 Mei 2016.

              Para pilot memaklumi hal itu, tapi hingga hari Selasa, 10 Mei, uang itu masih belum ditransfer.
              Para pilot emosi dan marah. Mereka juga mengetahui perusahaan membayar iuran Jaminan
              Hari Tua (JHT) BPJS Ketenagakerjaan hanya berdasarkan upah minimum regional.

              Kondisi  itu  membuat  ke-18  pilot  merasa    unfit  to  fly    --yang  merujuk  pada  LION  AIR  -
              OPERATING MANUAL PART A, Crew Health and Fitness, A.06.05, halaman 9--yang intinya, pilot
              yang mengalami kejadian emisional, contohnya perdebatan serius, kematian anggota keluarga,
              perpisahan  atau  perceraian,  kehilangan  pekerjaan,  dan  masalah  keuangan,  harus
              mempertimbangkan untuk tidak terbang hingga mereka pulih.

              "Apabila para penumpang yang akan berangkat mengetahui kondisi sebenarnya, pasti tidak ada
              satu pun penumpang yang mau dan bersedia diterbangkan oleh penerbang (pilot) yang dalam
              kondisi marah dan emosi," tertulis dalam dokumen permohonan.

              Dalam eksepsinya, Lion Air Group bersikukuh dengan posisinya, yang menyatakan ke-18 pilot
              bukan pekerja tetap, melainkan hanya terikat Perjanjian Ikatan Dinas Penerbang. Karena para
              pilot mogok terbang pada 10 Mei 2016, perusahaan menilai mereka telah melanggar perjanjian
              itu  sehingga  dijatuhi  sanksi  berupa  pemutusan  perjanjian  ikatan  dinas  penerbang.  Hal  itu
              disebut telah sesuai kesepakatan kedua belah pihak dalam perjanjian tersebut.

              Sejak  perjanjian  itu  diakhiri,  kedua  pihak  tidak  lagi  punya  ikatan  dan  para  pilot  tidak  bisa
              menuntut hak apa pun kepada perusahaan, termasuk soal pesangon, menurut Lion Air Group.
                                                           303
   299   300   301   302   303   304   305   306   307   308   309