Page 303 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 303

Angga dan NAS berasal dari Solo dan tinggal di satu kos yang sama tapi beda kamar di Kalideres.
              NAS bekerja sebagai  first officer  atau kopilot Wings Air. Dari hasil investigasi kepolisian, mereka
              menemukan  surat  pemecatan  dari  Wings  Air  terhadap  NAS.  Dalam  surat  itu  NAS  harus
              membayar denda Rp7 miliar kepada perusahaan.

              Managing Director Lion Air Group Daniel Putut dalam rapat bersama Komisi V DPR pada 25
              November  membenarkan  ada  pemecatan  dan  penalti  tersebut.  Daniel  berkilah  NAS  "tidak
              disiplin" dan melanggar kewajiban dalam kontrak. Denda Rp7 miliar merupakan nilai dari masa
              kontrak NAS selama 18 tahun, katanya.

              "Termuat dalam kontrak yang sudah disepakati kedua belah pihak," tambah Daniel.

              Komisioner Ombudsman-  cum  -pengamat penerbangan Alvin Lie menilai denda itu terlalu besar
              sekaligus tak sepatutnya NAS dikontrak hingga 18 tahun. Pasal 59 ayat (4) Undang-Undang
              Ketenagakerjaan  hanya  memberi  waktu  dua  tahun  untuk  Perjanjian  Kerja  Waktu  Tertentu
              (PKWT) dan boleh diperpanjang satu kali untuk jangka waktu paling lama satu tahun.

              Kasus NAS hanya satu dari segudang masalah ketenagakerjaan di Lion Air Group, maskapai
              penerbangan berbiaya murah yang menguasai setengah pangsa pasar domestik.

              Terakhir, perusahaan yang didirikan Rusdi Kirana, kini Dubes Indonesia untuk Malaysia, ini tidak
              memperpanjang kontrak karyawannya yang telah habis, mengakhiri kontrak kerja pegawai yang
              bekerja kurang dari 2 tahun, dan merumahkan tanpa gaji pekerjanya yang berusia di atas 55
              tahun. Total, ada 2.600 karyawan dalam kategori itu. Perusahaan beralasan pandemi COVID-
              19 telah memukul industri jasa penerbangan.

              Karyawan keberatan dengan keputusan itu sebab ada tiga hak pekerja yang digantung. Mereka
              juga khawatir Lion Air Group bakal membiarkannya di kemudian hari. Ketiga hak itu perusahaan
              belum  membayar  THR;  mengabaikan  kewajiban  membayar  pesangon  dan  uang  ganti  rugi
              kontrak; dan iuran BPJS Ketengakerjaan yang ditunggak perusahaan sejak Februari 2020.

              Masalah terbaru itu, bagaimanapun, mengingatkan peristiwa pemecatan terhadap 18 pilot Lion
              Air Group pada 2016.

              18 Pilot Menggugat Hak Pesangon  Pada 10 Mei 2016, Eki Andriansyah, pilot Lion Air Group,
              melakukan latihan simulator pesawat. Pada hari yang sama, pilot Mario Tetuko Hasiholan dan
              Muhamad  Nuryani  sedang  libur;  sementara  pilot  W.F  Jimmy  Kalebos  mendapatkan  jadwal
              terbang pukul 16.00 dari Bandara Djuanda, Surabaya, menuju Tarakan.

              Namun, beberapa hari berselang, PT Lion Mentari Airlines, tanpa ada peringatan, menjatuhkan
              sanksi  kepada  keempat  pilot  itu.  Sanksi  juga  diterapkan  kepada  14  pilot  lain  berupa
              penghapusan seluruh jadwal terbang hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

              Ke-14  pilot  lain  itu  Ade  Jeki  Wiliono,  Amsal  Salomo  Tampubolon,  Aulia  Nugroho,  Bambang
              Suhardiman,  Benny  Prasetyo,  Dicko  Eko  Prasetyo,  Egidius  Satya  Nugraha  Utama,  Erlang
              Erlangga, Galih Wibisono, Hasan Basri, Lucky Setiandika, Rizky Agustino Ksp, Wasono Bandang
              Nugroho, dan Wicaksono Budiarto.

              Perusahaan menuding mereka melakukan mogok kerja secara ilegal pada 10 Mei 2016, yang
              mengakibatkan penundaan banyak jadwal terbang pada hari itu.

              Sekitar  tiga  bulan  sesudah  sanksi  itu,  atau  4  Agustus  2016,  perusahaan  mengirim  surat
              Pemberitahuan Pengakhiran Perjanjian Ikatan Dinas Penerbang kepada 18 pilot tersebut. Surat
              itu ditandatangani oleh Kapten Daniel Putut K.A selaku Direktur Operasi Lion Air Group.




                                                           302
   298   299   300   301   302   303   304   305   306   307   308