Page 305 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 305

Jika  para  pilot  keberatan  dengan  keputusan  itu,  Lion  Air  menilai,  semestinya  para  pilot
              mengajukan gugatan perdata ke pengadilan umum, bukan ke pengadilan PHI.

              Namun, majelis hakim PHI yang dipimpin oleh hakim Eko Sugianto menolak eksepsi. Merujuk
              pada Perjanjian Ikatan Dinas Penerbang, majelis hakim beranggapan hubungan antara para
              pilot  dan  PT  Lion  Mentari  Airlines  adalah  hubungan  kerja  karena  keduanya  memiliki  unsur
              pekerjaan, upah, dan perintah.

              "Hal tersebut termasuk dalam ruang lingkup Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang
              Ketenagakerjaan, bukan hubungan perdata biasa sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 1320
              KUH Perdata," menurut hakim dalam pertimbangannya.

              Selain itu, majelis hakim menyatakan para pilot dan perusahaan terikat Perjanjian Kerja Waktu
              Tidak Tertentu (PKWTT) alias pekerja tetap, meskipun dalam perjanjian ikatan dinas diterapkan
              tenggat 5 tahun, 7 tahun, 10 tahun, bahkan 18 tahun.

              Musababnya,  pasal  59  ayat  (1)  UU  Ketenagakerjaan  menyatakan  kontrak  kerja  hanya  bisa
              berlaku terhadap pekerjaan tertentu yang akan selesai dalam waktu tertentu, sementara para
              pilot bertugas dengan jadwal yang teratur tiap harinya, demikian alasan majelis.

              Majelis mengakui para pilot telah melanggar perjanjian ikatan dinas dan Buku Pedoman Kerja
              Karyawan Lion Air Group. Namun, majelis juga menyatakan keputusan PHK itu tidak didahului
              perundingan dengan para pilot, surat PHK dari Lion Air belum mendapatkan penetapan dari
              lembaga penyelesaian hubungan industrial, dan karena itu hakim menilai surat PHK itu tidak
              sah.

              Kendati begitu, lantaran para pilot tidak memohon untuk dipekerjakan kembali di Lion Air dan
              hanya menuntut pembayaran pesangon, hakim menyatakan hubungan kerja antara keduanya
              telah putus sejak 4 Agustus 2016. Maka, perusahaan harus membayar pesangon terhadap 18
              pilot itu. Totalnya Rp7.292.840.000.

              Selain itu, majelis hakim mengharuskan Lion Air membayar THR kepada enam pilot, totalnya
              Rp211.100.000.

              Pihak  Lion  Air  menolak  putusan  itu,  lantas  mengajukan  upaya  hukum  hingga  kasasi  ke
              Mahkamah Agung (MA). Pada 20 April 2018, MA menolak gugatan kasasi dan tetap menghukum
              Lion  Air  Group  membayar  kewajibannya  kepada  18  pilot,  yang  totalnya  berkurang  menjadi
              Rp6.415.260.000.

              Infografik HL Indepth Pandemi COVID-19 Memukul Lion Air Group. tirto.id/Lugas  Gugatan Balik
              Lion  Air:  Menagih  Biaya  Pendidikan  &  Pelatihan    Seorang  mantan  pilot  Lion  Air  Group
              berkata kepada  Tirto  pada  11 Juli pekan lalu bahwa kendati sengketa Perselisihan Hubungan
              Industrial  sudah   incracht   di Mahkamah  Agung,  "tapi Lion  Air  Group  tidak  mau  membayar
              walaupun  kita  sudah  mengajukan  permohonan  eksekusi."    Lion  tak  kunjung  memenuhi
              kewajibannya kendati sudah menerima teguran (  aanmaning  ) dari Pengadilan Negeri Jakarta
              Pusat.

              Pihak Lion Air berkata bukan tidak ingin atau tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut. Tapi,
              menunggu putusan perdata atas gugatan wanprestasi terhadap para pilot.

              Ceritanya, selagi persidangan di pengadilan hubungan industrial berjalan, Lion Air mengajukan
              gugatan balik untuk 16 eks pilot ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Lion menagih kewajiban
              para pilot membayar uang ganti biaya pendidikan dan pelatihan.

              Dipisah ke dalam dua berkas gugatan perdata, ke-16 pilot yang digugat Lion Air adalah Ade Jeki
              Williono, Amsal Salomo Tampubolon, Aulia Nugroho, Benny Prasetyo, Egidius Satya Nugroho
                                                           304
   300   301   302   303   304   305   306   307   308   309   310