Page 300 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 300

Menteri  Ida  menambahkan  dalam  kenyataannya  masih  banyak  permasalahan  yang  harus
              dihadapi PRT di Indonesia. Sebutlah diantaranya; PRT yang sampai saat ini belum dianggap
              sebagai

              sebuah profesi; rata-rata jam kerja PRT lebih panjang dari pekerja pada umumnya; sebesar 63
              persen PRT bekerja tujuh hari dalam sepekan; banyaknya PRT yang tidak memiliki perjanjian
              atau kontrak kerja yang jelas; dan minimnya perlindungan jaminan sosial dan asuransi bagi
              PRT.
              Adapun tujuan perlindungan PRT ialah memberikan kepastian hukum kepada PRT dan pemberi
              kerja,  mencegah  segala  bentuk  diskriminasi,  eksploitasi.  dan  pelecehan  seksual,  mengatur
              hubungan kerja yang harmonis, meningkatkan pengetahuan, keahlian, dan keterampilan PRT.
              dan meningkatkan kesejahteraan PRT. Menurutnya perlindungan terhadap PRT sudah menjadi
              perhatian bagi pemerintah namun tidak akan terwujud tanpa adanya sinergi dari seluruh pihak.
              "Oleh karena itu, saya ingin mengajak kita semua, mari bersama kita dukung pengesaan RUU
              PPRT dan serukan stop kekerasan terhadap pekerja rumah tangga mulai dari diri kita sendiri
              dan keluarga," tambah Menteri Ida.

              Sementara itu Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Ru-bianto mengatakan,
              setelah melalui 16 tahun perjuangan di DPR untuk mendapat legitimasi atas statusnya yang
              sempat  mandek/mangkrak,  pengesahan  RUU  PPRT  ini  akan  menjadi  sejarah  baru  dalam
              penghapusan kekerasan dan diskriminasi di Indonesia, khususnya terhadap PRT. RUU PPRT
              akan diusulkan menjadi RUU Inisiatif dan akan disidang paripurnakan pada Selasa, 14 Juli 2020
              dan Kamis, 16 Juli 2020.

              "RUU PPRT ini menjadi suatu kebutuhan yang mendesak dalam perlindungan pekerja dan warga
              negara Indonesia karena bersifat mengikat dan adanya kepastian hukum. Maka dari itu perlu
              ada pengawalan dari kita semua," ujar Giwo.
              Seperti yang kita ketahui bersama, PRT merupakan pekerjaan yang rawan dan rentan dalam
              perlindungan  hukum  karena  wilayah  kerja  bersifat  domestik  dan  privat  sehingga  tidak  ada
              kontrol  dan  pengawasan  Pemerintah.  Padahal  praktik  situasi  kerjanya  rawan  dan  rentan
              terhadap diskriminasi seperti pelecehan terhadap profesi, eksploitasi, dan kekerasan baik secara
              ekonomi, fisik dan psikis (dalam bentuk intimidasi maupun dalam bentuk isolasi).

              Itu sebab di dalam praktiknya, RUU PPRT nantinya harus dipastikan adanya hak dan kewajiban
              yang berimbang antar PRT dan pemberi kerja agar memberikan perlindungan dalam bentuk
              penghormatan hak asasi manusia, keadilan dan kesetaraan, dan kepastian hukum. Hal ini juga
              merujuk  kepada  Sustainable  Devel-opment  Goals  (SDGs)  yang  menyebutkan  No  One  Left
              Behind,  guna  meningkatkan  kualitas  hidup  secara  ekonomi,  pendidikan,  kesehatan  dan
              kesejahteraan  PRT  sebagaimana  pekerja  lainnya  tanpa  ada  yang  tertinggal,  serta
              memperjuangkan hak dan kewajiban yang seimbang antara PRT dan pemberi kerja, (del)

              caption:

              Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga dalam
              sambutannya dalam webinar 'Pentingnya Undang-Undang Perlindungan PRTuntuk Perempuan
              Indonesia'










                                                           299
   295   296   297   298   299   300   301   302   303   304   305