Page 296 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 296
BANTAH DATA BPS, KADINDIK JATIM: LULUSAN SMK SUDAH TERSERAP PASAR
KERJA
Wahid Wahyudi Surabaya, Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Wahid Wahyudi memastikan
sebagaian besar lulusan SMK di Jatim sudah terserap di pasar kerja. Ia mengatakan, tingginya
angka pengangguran lulusan SMK yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) karena ada
perbedaan dalam standart pencatatan waktu bekerja.
Menurut Wahid, para lulusan SMK bekerja di sektor tenaga lepas (freelance), sehingga tidak
tercatat dalam data BPS.
"Data BPS penangguran terbesar lulusan SMK karena standart BPS mereka yang bekerja
biasanya minimal 36 jam dalam seminggu. Padahal kenyataannya mereka lulusan SMK banyak
yang bekerja freelance," katanya saat ditemui di Kantor DPRD Jatim, Kamis (16/7).
Wahid mencontohkan, tenaga perias, salon dan pekerja bengkel yang kebanyakan tidak tercatat
sebagai pekerja formal oleh BPS. Padahal, mereka mempunyai keahlian dan gaji yang cukup
besar, berbeda dengan pekerja formal.
"Data BPS, lulusan SMK banyak yang freelance dan lulusan SMK mereka rias dari rumah ke
rumah, perawatan wajah freelance. Yang punya keahlian service AC, mobil kulkas dan freelance.
Padahal, jangan salah meski mereka pekerja freelance gajinya cukup tinggi dianggap BPS tidak
bekerja," tambahnya.
Wahid berharap agar para pekerja freelance juga dimasukkan dalam angkatan kerja oleh BPS.
Sehingga, nantinya bisa memacu semangat para siswa menempuh studi di SMK.
Mantan Kadishub Jatim ini juga memastikan lulusan SMK di Jatim juga sudah terserap di pasar
kerja, meski sebagaian juga bekerja di sektor non formal.
Seperti diketahui, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat tingkat pengangguran
terbuka (TPT) di Indonesia justru didominasi oleh lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).
Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, karena lulusan SMK di didik untuk menjadi tenaga
siap kerja. Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan (Kabarenbang) Kemnaker Tri Retno
Isnaningsih, dalam kesempatan tersebut, mengatakan bahwa porsi angka TPT Indonesia untuk
lulusan SMK mencapai 8,49%.
"TPT tertinggi adalah pada level SMK karena besarnya ada 8,49%. Ini juga suatu permasalahan
khusus di mana SMK ternyata malah menduduki peringkat yang paling tinggi untuk TPT-nya di
Indonesia," kata Retno di Jakarta, Selasa (14/7/2020).
Porsi TPT terbesar selanjutnya berasal dari lulusan sekolah menengah atas (SMA) dengan angka
6,77%, Diploma I-III sebesar 6,76%, universitas 5,73%, sekolah menengah pertama (SMP)
sebesar 5,02%, dan sekolah dasar (SD) dengan angka 2,64%.
Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di wilayah Provinsi Jawa Timur pada
Februari 2020 tercatat sebesar 3,69 persen. Artinya, terjadi penurunan 0,14 persen poin
dibanding TPT Februari 2019 yang sebesar 3,83 persen.
Kepala Badan Pusat Statistika (BPS) Jatim, Dadang Hardiwan mengungkapkan, dilihat dari
tingkat pendidikan, TPT di Jatim masih didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
"Dilihat dari tingkat pendidikan yang ditamatkan, pada Februari 2020, TPT untuk SMK masih
mendominasi di antara tingkat pendidikan yang lain, yaitu 8,04 persen. Dibanding Februari
2019, TPT lulusan SMK mengalami kenaikan 1,20 persen," katanya, Selasa (5/5).
295

