Page 69 - BAHAN AJAR MSDM ORGANISASI PUBLIK BY JANDRY P. Z RATU KADJA, SE.,M.Si
P. 69

64 | Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi Publik


            perlu mengikuti pendidikan dan pelatihan. Contohnya, setiap pegawai
            negeri   yang   akan   menduduki   eselon   I   harus  telah   menempuh
            pendidikan   SESPANAS,   setiap   pegawai   negeri  sipil   yang   akan
            menduduki  jabatan  struktural,  maka  ia  terlebih  dahulu  mengikuti
            pendidikan dan pelatihan (Diklat) yang dipersyaratkan oleh jabatan itu.
                  Pendidikan dan pelatihan merupakan suatu kebijakan organisasi
            untuk  meningkatkan  kemampuan  dan  keterampilan  sumber  daya
            manusia  organisasi  guna  menghadapi  tantangan  masa  depan.  Hal  ini
            sesuai   dengan   yang   diungkapkan   oleh   Walker   (1992),   bahwa
            pendidikan disediakan oleh organisasi untuk memperlengkapi pegawai
            mengembangkan kapasitasnya untuk mengantisipasi atau menghadapi
            masa  yang  akan  datang.  Sedangkan  pelatihan  disediakan  oleh
            organisasi untuk membantu pegawai mendapatkan keterampilan yang
            diperlukan bagi peningkatan kinerja organisasi.
                  Jadi,  pelatihan  diperlukan  untuk  mengatasi  masalah-masalah
            yang  sifatnya  teknis,  sedangkan  pendidikan  diperlukan  untuk
            menambah  kemampuan  wawasan  pegawai  untuk  memecahkan
            masalah-masalah organisasi secara keseluruhan.
                  Tidak  dapat  dipungkiri  bahwa  pendidikan  dan  pelatihan
            memerlukan investasi yang sangat besar, namun tetap diperlukan agar
            organisasi  dapat  “survive”  dalam  menghadapi  gelombang  perubahan
            yang tidak menentu. Oleh karena itu, organisasi harus selektif memilih
            pegawai yang akan diikutkan dalam pendidikan dan pelatihan.
                  Hal  lain  yang  diperhatikan  dalam  rangkaian  pendidikan  dan
            pelatihan  adalah  penggunaan  (utilization)  dari  pegawai  yang  telah
            mengikuti pendidikan dan pelatihan. Contohnya, suatu organisasi telah
            banyak   mengeluarkan   dana   untuk   membiayai   pendidikan   dan
            pelatihan  karyawannya,  akan  tetapi  selesai  mengikuti  kegiatan
            pendidikan  dan  pelatihan  yang  bersangkutan     tidak  diberdayakan
            secara optimal juga para pegawai yang telah mengikuti pendidikan dan
            pelatihan kinerjanya sama dengan sebelum mengikuti pendidikan dan
            pelatihan. Hal ini terjadi karena dibatasi struktur di dalam organisasi.
            Artinya  pimpinan  organisasi  tidak  memberikan  kewenangan  untuk
            mengembangkan  kemampuannya  di  dalam  organisasi.  Contohnya,
            banyak  rencana  kegiatan  yang  telah  dibuat  oleh  para  pegawai  yang
            telah mengikuti diklat tetapi ditolak oleh pimpinan organisasi.
                  Jadi   perlu   diciptakan   suatu   kondisi   yang  kondusif   yang
            memungkinkan  para  pegawai  yang  telah  mengikuti  pendidikan  dan
            pelatihan   untuk   mengembangkan   kreativitasnya.  Sehingga   tidak
            menimbulkan frustasi dan tercetus ungkapan “don’t train me, train my
            boss attitude” (Kiggundu, 1989).
   64   65   66   67   68   69   70   71   72   73   74