Page 16 - 8731_Andisipengendangcilik
P. 16

Akhirnya  Bu Suwarmi  yang mengalah untuk

          melerai. Tombol pengecil suara ia tekan hingga berkurang
          volume suaranya.  Setelah itu,  ia mengajak anak-anak
          untuk makan malam. Suasana tegang menjadi lebih
          tenang.  Mereka  menikmati makan malam bersama. Di
          samping Andi, duduk Pak Sarjo, ayahnya.


                 “Besok sore kita berlatih tari ebeg. Kamu habiskan
          makan malam biar badanmu kuat, cepat besar, dan cepat
          menjadi bagian  dari  penari  ebeg yang andal,”  ujar  Pak

          Sarjo sambil mengelus-elus kepala Andi. Andi diam, tetapi
          ia merasa bangga karena apa yang dilakukannya sore ini
          mendapat perhatian dari orang tuanya.


                 Pak Sarjo pergi ke ruang depan, lalu menuju teras
          untuk mencari udara segar. Secangkir kopi hitam dibawa
          menemani angan-angannya merenungkan sesuatu.


                 “Andi tampaknya  senang mendengar ajakanmu,
          Pak, tetapi ia masih kecil,” tiba-tiba suara Bu Suwarmi
          memecah renungan Pak Sarjo.


                 “Tidak  apa-apa, Bu,  justru  Bapak akan  melatih
          Andi sejak kecil. Bapak akan membuat kelompok tari ebeg
            dengan anggota  anak-anak. Itu ide baru. Bapak justru

          melihat peluang besar dengan kemampuan Andi menari.
          Selama ini kita tahu bahwa ebeg hanya dimainkan oleh
          orang-orang dewasa,” Pak Sarjo   menguraikan maksud
          hatinya.




              6
   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21