Page 40 - 210819_Minyak Kelapa Sawit Aman
P. 40
Hadi berharap harga sawit dapat kembali pulih. Terlebih diakuinya hasil sawit yang ia tanami
merupakan sawit kualitas bagus dan besar.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Eddy Suratman menilai,
harga sejumlah komoditas ekspor andalan Kalimantan Barat seperti kelapa sawit dan karet,
akan dipengaruhi dengan kondisi ekonomi global. Menurut dia, rendahnya pertumbuhan
ekonomi global yang masih diprediksi terjadi di tahun ini akan mengakibatkan harga kedua
komoditas tersebut sulit mengalami kenaikan.
“Pertumbuhan ekonomi global menurut proyeksi IMF, di tahun 2019 hanya sekitar 2,1 persen.
Dengan pertumbuhan yang relatif rendah itu, akibatnya adalah, petani-petani kita masih akan
menikmati harga komoditas yang relatif rendah, terutama karet dan kelapa sawit yang menjadi
andalan Kalimantan Barat,” jelas Eddy.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Mukti Sardjono
mengatakan, kinerja ekspor minyak sawit Indonesia tidak tumbuh secara maksimal karena
ada beberapa dinamika di pasar global khususnya di negara tujuan utama ekspor Indonesia
seperti India, Uni Eropa, China dan Amerika Serikat.
Di India, Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia khususnya untuk refined products di
mana bea masuk refined products dari Indonesia Iebih tinggi daripada Malaysia dengan selisih
9 persen, yang mana tarif bea refined products dari Malaysia adalah 45 persen dari tarif
berlaku 54 persen.
“Uni Eropa menggaungkan RED II ILUC dan tuduhan subsidi biodiesel ke Indonesia sedikit
banyak juga telah mempengaruhi ekspor Indonesia ke Uni Eropa. Perang dagang Cina dan
Amerika Serikat juga telah mempengaruhi pasar minyak nabati dunia,” ujarnya.
Gapki mencatat, semester pertama 2019 kinerja ekspor minyak sawit Indonesia (CPO dan
turunannya, biodiesel dan oleochemical) membukukan kenaikan hanya 10 persen
dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun.
Menurut dia, kenaikan volume ekspor ini seharusnya masih bisa digenjot Iebih tinggi lagi, akan
tetapi karena beberapa hambatan dagang membuat kinerja ekspor tidak maksimal.
Sementara itu, untuk volume ekspor khusus CPO dan turunannya saja (tidak termasuk
biodiesel dan oleochemical) semester I 2019 hanya mampu terkerek 7,6 persen dibandingkan
dengan periode yang sama 2019.
Dia bilang, volume ekspor Indonesia khusus CPO dan turunannya pada semester pertama
2019 mengalami penurunan hampir di semua negara tujuan utama ekspor Indonesia. Kecuali
Cina.
LAWAN KAMPANYE HITAM

