Page 41 - 210819_Minyak Kelapa Sawit Aman
P. 41
Sementara itu, upaya mengatrol harga CPO terus dilakukan berbagai pihak. Badan
Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa produsen barang konsumsi
dilarang memberikan label palm oil free atau bebas minyak sawit. Lembaga tersebut akan
melakukan pengawasan pada barang yang sudah dijual. Alasannya, pelabelan tersebut
merupakan kampanye hitam dan melarang aturan BPOM.
Produksi minyak sawit Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dari tahun ke
tahun. Baik dalam bentuk CPO maupun produk turunannya yang diperuntukkan industri kimia
dan industri pangan. Minyak sawit biasa digunakan untuk minyak goreng, margarin, mayones,
sabun, sampo, pasta gigi, bahan baku untuk baju, kertas koran, palm oil biodiesel, dan lain-
lain.
Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito menyatakan bahwa BPOM tidak menyetujui
pendaftaran produk yang mencantumkan klaim bebas minyak sawit. ”Pelabelan palm oil free
ini melanggar peraturan BPOM no 31 tahun 2018 tentang pelabelan,” ujarnya Rabu (21/8)
ditemui di kantornya.
Kemarin BPOM menyelenggarakan pertemuan bersama untuk membahas pelabelan palm oil
frre. Pertemuan itu dihadiri perwakilan Kementerian Perdagangan, Kementerian Kesehatan,
Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, dan lintas sektor terkait lainnya.
”Kami membangun kesepakatan dan komitmen untuk dalam upaya perlindungan terhadap
daya saing perdagangan kelapa sawit. Khususnya menghentikan penggunaan label Palm Oil
Free yang akan menurunkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia.” beber Penny.
Penny menyatakan bahwa kedepan pihaknya akan melakukan kampanye besar-besaran. Hal
ini sebagai langkah untuk memberikan edukasi kepada produsen dan masyarakat. Dia
berharap, ada kerjasama dengan Kemenkes atau dinas kesehatan. Sebab dinas kesehatan
yang selama ini mengawasi UMKM dan memberikan ijin.
Sejauh ini, BPOM menurut Penny sudah melakukan pengawasan. Terbuktu telah
menemukan bahan konsumsi aktif yang menggunakan label bebas minyak sawit.
Menurutnya, produk impor yang masuk harus melepas label itu. “Kalau masih ada yang
bertuliskan seperti itu pasti produk ilegal,” tuturnya.
Penny menyatakan bahwa maraknya pelabelan bebas minyak sawit ini karena tren saja.
”Padahal belum ada bukti ilmiah soal mengganggu kesehatan,” ucapnya.
Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia, Derom Bangun, ditemui di tempat yang sama
menyatakan, industri kelapa sawit sudah berubah. Perusahaan kepala sawit sudah mengikuti
aturan yang ada. Terutama soal penyelamatan ekosistem.
”Kami sudah mengikuti aturan tahun 2011 tentang standar sawit berkelanjutan,” kata Derom.
Dia juga menyatakan bahwa seluruh industri kelapa sawi sudah diawasi pemerintah.
Sehingga tidak mungkin ada pembukaan hutan kembali.

