Page 32 - Masa-il-Diniyyah-Buku-Pertama_Dr.-H.-Kholilurrohman-MA
P. 32
banyak, kaum laki-laki dan kaum perempuan bercampur, lalu
11
kamipun shalat bersamanya” .
Ibnu Hibban meriwayatkan dari Sahl ibn Sa’d, berkata: “Kami
kaum perempuan di masa Rasulullah diperintah untuk tidak
mengangkat kepala hingga kaum laki-laki mengambil tempat
duduknya masing-masing, karena sempitnya pakaian [yang
12
mereka kenakan]” .
Dua hadits di atas merupakan dalil bahwa berkumpulnya
kaum laki-laki dan kaum perempuan dalam satu tempat adalah
sesuatu yang boleh, sekalipun tidak ada penghalang (sitar) antara
mereka. Artinya bahwa ikhthilath antara kaum laki-laki dan kaum
perempuan adalah hal yang boleh selama tidak ada persentuhan.
Adapun ikhtilath yang diharamkan adalah yang disertai dengan
adanya persentuhan tubuh.
An-Nawawi dalam syarahnya terhadap kitab al-Muhadzdzab,
berkata: “...karena sesungguhnya ikhtilath antara kaum laki-laki dan
kaum perempuan jika bukan khalwah adalah sesuatu yang bukan
13
haram” .
Perkataan an-Nawawi di atas sesuai dengan petunjuk hadits
Ibn ‘Abbas, bahwa Rasulullah bersabda bagi kaum perempuan saat
mereka berbaiat:
11 Lihat Kitab al-Ausat (2/401)
12 Lihat al-Ihsan Bi Tartib Shahih Ibn Hibban (3/317)
13 al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (4/484)
28

