Page 51 - Masa-il-Diniyyah-Buku-Pertama_Dr.-H.-Kholilurrohman-MA
P. 51
Abbas dan Ibn as-Sunni meriwayatkannya dari Rasulullah dalam
'Amal al Yaum wa al-laylah”.
Al Bayhaqi meriwayatkan dalam as-Sunan al Kubra kebolehan
memakai hirz dari beberapa ulama Tabi'in, di antaranya Sa’id ibn
Jubayr, Atha’. Bahkan Sa'id ibn al Musayyab memerintahkan agar
dikalungkan ta'widz dari al Qur'an. Kemudian al Bayhaqi berkata:
“ini semua kembali kepada apa yang telah aku sebutkan
bahwasanya kalau seseorang membaca ruqa (bacaan-bacaan) yang
tidak jelas maknanya, atau seperti orang-orang di masa Jahiliyah
yang meyakini bahwa kesembuhan berasal dari ruqa tersebut maka
itu tidak boleh. Sedangkan jika seseorang membaca ruqa dari ayat-
ayat al Qur'an atau bacaan-bacaan yang jelas seperti bacaan dzikir
dengan maksud mengambil berkah dari bacaan tersebut dan
dengan keyakinan bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Allah
semata maka hal itu tidak masalah, wabillah at-taufiq”.
Adapun hadits Rasulullah yang berbunyi:
دواد يبأ هاور " كرش ةليتلاو مئامتلاو ٌقرلا نإ "
Maknanya : “Sesungguhnya ruqa, tama-im dan tiwalah adalah syirik”
(H.R. Abu Dawud)
Yang dimaksud bukanlah tama-im dan ta’awidz yang berisikan ayat-
ayat al Qur’an atau bacaan-bacaan dzikir. Karena kata tama-im
sudah jelas dan dikenal maknanya, yaitu untaian yang biasa
dipakai oleh orang-orang jahiliyyah dengan keyakinan bahwa
tamaim tersebut dengan sendirinya menjaga mereka dari 'ayn atau
yang lainnya. Mereka tidak meyakini bahwa tama-im itu
47

