Page 71 - Mengungkap-Kerancuan-Pembagian-Tauhid-Kepada-Uluhiyyah-Rububiyyah-dan-al-Asma-Wa-ash-Shifat-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA-277-Hal
P. 71
Mengungkap Kerancuan Tiga Tauhid | 69
kita memohon kesembuhan kepada Allah dengan haditsnya
dan akan turun hujan dengan menyebut namanya”.
Kemudian ‗Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal menukil
pernyataan ayahnya sendiri, -yaitu al-Imam Ahmad ibn Hanbal,
dalam kitab al-„Ilal Wa Ma‟rifah ar-Rijal, bahwa ayahnya tersebut
berkata:
ِ ِ
ِ
ْىقستسَْنامحاصْنلاجرْ:ةن ي يعْنباْ َ لاقْ: ٍ لب نحْنبْدحَْأْ َ لاق َ
َ
َ
َ َ ُ ْ َُْ
ْ
َََُْ ُ ْ
َ َ ُ َ َ
ْ ْ
ُ َ
ِِ
ِ
ْ ْ ْ ٍ رباجِْ نبْدَِ زَْنبْدَِ زَوْنلاجعْنباْامبه
ْ
ََ َ ُ ْ َ
َ ْ َْ َ ُ ْ ُْ ََ
“Ahmad ibn Hanbal berkata: Sufyan ibn „Uyainah berkata:
Ada dua orang saleh yang kita memohon hujan kepada Allah
dengan menyebut namanya: Ibn „Ajlan dan Yazid ibn Yazid
29
ibn Jabir” .
Marilah kita renungkan, dalam pernyataan-pernyataannya
ini al-Imam Ahmad ibn Hanbbal sama sekali tidak berkata:
“Yustasqa Bi Du‟aih…” (Dimohonkan hujan dengan doa orang-
orang saleh tersebut). Tidak seperti pemahaman kaum
Wahabiyyah yang mengatakan bahwa tawassul hanya boleh
dilakukan dengan doa seorang yang hadir saja, atau mengatakan
bahwa tawassul dengan menyebut orang-orang saleh adalah
perbuatan syirik. Sebaliknya, al-Imam Ahmad justru menjadikan
penyebutan orang-orang saleh seperti tersebut di atas adalah
sebagai sebab turunnya hujan.
Dari sini kita tarik kesimpulan bahwa al-Imam Ahmad ibn
Hanbal, dan ajaran madzhab Hanbali -sebagaimana juga
madzhab-madzhab yang lain- telah membolehkan tawassul dengan
Rasulullah dan orang-orang saleh yang sudah meninggal, bahkan
hal itu disunnahkan. Lalu dari mana dasar kaum Wahhabaiyyah, -
yang mengaku pengikut madzhab Hanbali-, mengatakan bahwa
29 al-„Ilal Wa Ma‟rifah ar-Rijal, j. 1, h. 163-164