Page 72 - Mengungkap-Kerancuan-Pembagian-Tauhid-Kepada-Uluhiyyah-Rububiyyah-dan-al-Asma-Wa-ash-Shifat-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA-277-Hal
P. 72

70 | Mengungkap Kerancuan Tiga Tauhid

            tawassul  adalah  haram,  bahkan  sebagai  perbuatan  syirik?!  Dari
            mana mereka mengatakan bahwa para ulama Salaf telah melarang
            dan  bahwa  mereka  tidak  pernah  melakukan  tawassul?!  Sungguh
            aneh,  mengaku  pengikut  al-Imam  Ahmad  atau  mengaku
            bermadzhab Hanbali, tapi kemudian mengatakan haram bahkan
            mengatakan  syirik  terhadap  sesuatu  yang  dibolehkan  oleh  Al-
            Imam  Ahmad  dan  ulama  madzhabnya  sendiri!  Bukankah  jika
            demikian pengakuan mereka bermadzhab Hanbali hanya sebagai
            ―kedok‖ belaka?!
                    Lihatlah, Imam Abu al-Wafa‘ ibn ‗Aqil (w 503 H), salah
            seorang  ulama  besar  madzhab  Hanbali,  bahkan  sebagai  Ahl  at-
            Takhrij  (Ashab  al-Wujuh)  dalam  madzhab  ini,  beliau  sangat
            menganjurkan  dan  menekankan  ziarah  ke  makam  Rasulullah.
            Beliau  juga  sangat  menganjurkan  untuk  tawassul  dengan
            Rasulullah,  seperti  yang  telah  beliau  sebutkan  dalam  kitab  at-
            Tadzkirah.  Ini  adalah  salah  satu  bukti  bahwa  orang-orang  yang
            mengaku  bermadzhab  Hanbali,  tapi  kemudian  mengharamkan
            tawassul dan memusyrikkan pelakunya, sebetulnya mereka adalah
            orang-orang  yang  menyempal  dari  madzhab  Hanbali  sendiri.
            Benar, itulah prilaku mereka yang selalu membawa ajaran-ajaran
            baru,  baik  dalam  masalah-masalah  Ushuliyyah  maupun  dalam
            masalah-masalah  Furu‟iyyah.  Dan  merekalah  yang  ―mengotori‖
            dan  bertanggung  jawab  atas  ―tercemarnya‖  kagungan  madzhab
            Hanbali,  madzhab  yang  telah  dirintis  oleh  al-Imam  Ahmad  ibn
            Hanbal ini.



                2.  Istighatsah
                    Istighatsah  adalah  pola  (Wazn)  Istif‟aal  dari  kata  al-Ghauts
            yang berarti  pertolongan. Pola  ini  salah  satu  fungsinya adalah
            menunjukkan  arti  ath-Thalab  (permintaan  atau  permohonan).
   67   68   69   70   71   72   73   74   75   76   77