Page 705 - Gabungan
P. 705
"Nyonya Bai, jangan terlalu sedih. Putra Anda sudah kembali ke
pangkuan Tuhan. Semua ini sudah diatur-Nya."
"Terima kasih, suster. Saya lelah, ingin beristirahat sebentar di
kursi roda. Kamu bisa keluar dulu. Tiga pelayan pulang ke kampung,
jadi... oh, tolong tutup pintunya,"** kata Tanaka Sachiko dengan
tenang.
"Nyonya, sekarang sudah jam sepuluh. Saya sudah menyalakan
TV—gerhana sebagian sudah mulai. Sekitar sejam lagi akan gerhana
total. Nyonya mau menonton?"
"Kamu saja yang nonton, suster. Oh, tolong telepon lagi penjaga
pintu, ingatkan dia jangan sampai melihat gerhana langsung dengan
mata telanjang—nanti buta."
"Baik, Nyonya!" Perawat menutup pintu dan pergi.
Tanaka Sachiko sadar betul. Dia tahu matahari perlahan tertutup
bulan—bagi nenek moyang di zaman purba, ini pasti dianggap
sebagai kejadian mistis, seolah-olah "anjing langit" memakan
matahari. Orang-orang primitif akan berkumpul, memukul kayu untuk
mengusir sang anjing. Tapi kini, sains telah menjelaskan hukum alam
ini dengan gamblang. Gerhana bisa diprediksi. Bulan pun memiliki
fase. Semua makhluk hidup di dunia tumbuh, matang, lalu berganti
generasi. Bukankah suka-duka dalam hidup manusia juga seperti itu?
Cahaya di luar jendela perlahan meredup. Tanaka Sachiko merasa
705

