Page 707 - Gabungan
P. 707
dia teringat Bai Zhongwu. "Suami-istri yang saling mencintai selama
20 tahun lebih—apakah pantas pergi tanpa sepucuk surat?"
Dia membuka laci, mengambil kertas dan pulpen. Baru menulis
dua karakter "Zhong Wu", matanya sudah berkunang-kunang. Dunia
berputar. Pulpen terjatuh dari tangannya. Dengan lemah, dia
bersandar di kursi roda.
"Tiiiin!" Bunyi klakson mobil terdengar di depan rumah.
Bai Zhongwu pulang.
Penjaga pintu yang ketakutan akan gerhana mengurung diri di pos
jaga, tidak berani keluar. Bai Zhongwu tersenyum, geleng-geleng
kepala. Sopirnya turun membukakan pintu gerbang, lalu memarkir
mobil di garasi.
**"Saya tidak akan keluar lagi. Kamu boleh pulang lebih awal," kata
Bai Zhongwu pada sopir.
"Baik, Tuan." Sopir itu mengangguk dan pergi.
Bai Zhongwu masuk ke ruang tamu. Perawat sedang asyik
menonton TV—siaran langsung gerhana matahari total yang akan
segera terjadi.
"Oh, Tuan Bai sudah pulang," sang perawat buru-buru berdiri.
"Di mana nyonya?"
"Nyonya bilang mau istirahat, menyuruh saya menunggu di luar."
Bai Zhongwu menduga istrinya pasti kesepian. Kebetulan hari ini
707

