Page 63 - IST Baru
P. 63
Problema lain yang dihadapi Kolonel Ryacudu ialah ketika Satuan sukarela-
wan “Tentara Negara Kalimantan Utara” yang menentang Malaysia, mulai memasuki
wilayah Kalimantan Barat. Sukarelawan asal Kalimantan Utara ini mendapat perlind-
ungan pemerintah Indonesia karena sama-sama menentang Malaysia, dan mendapat
restu memasuki daerah Kalimantan Barat. Ternyata sukarelawan TNKU ini telah pula
disusupi oleh gerilyawan komunis Serawak yang terdiri dari gerilyawan Cina Komunis.
Menghadapi berbagai tantangan dan problema ini, Pangdam XII/Tanjungpura
Kolonel Ryacudu menyusun pertahanan daerah Kalimantan Barat dalam 2 garis per-
tahanan. Pertahanan daerah perbatasan dengan menempatkan Satuan Tempur mas-
ing-masing 1 Kompi di daerah Sentimo, Seluas, Balai Karangan, Senaning dan Nanga
Badau. Satuan garis depan ini bertugas memukul dan menghancurkan pasukan mu-
suh yang melanggar perbatasan.
Pertahanan garis kedua sebagai satuan pembinaan wilayah dan memelihara
ketahanan garis belakang oleh Kodim-Kodim yang diperkuat satu Kompi Senapan di
daerah Sambas, Ngabang dan Sanggau.
Sejak bulan Januari 1965 Kodam XII/Tanjungpura mendapat bantuan Satuan
Tempur dari Yonif 328/SLW, Yonif 305/SLW, Yonif 438/DIP, Yonif 521/BRW, dan Yonif 600
R/Koandakal. Brigjen TNI Ryacudu melancarkan Operasi “pamungkas” dalam rangka
pengamanan daerah perbatasan dan operasi “Lintas Batas” sebagai operasi Intelijen
di daerah perbatasan dan ke daerah musuh. Bulan Juli 1965 Deyah Koandakal selaku
Pangkolaga II mengangkat Pangdam XII/Tanjungpura selaku Panglima Pertahanan
Daerah (Panghanda) Kalbar. Kodam XII/TPR melaksanakan Operasi “Mandau Telabang”
bulan Juni 1965 dan operasi “Panca Siaga” bulan Juli 1965, sebagai Operasi Teritorial
dan Pembinaan Wilayah. Sementara Kolaga dengan Kopur IV/Mandair melaksanakan
Operasi Gabungan di bawah Kolaga dan Panglima Mandala ll.
PKI Kalbar pimpinan Sofyan sejak awal tahun 1965 berupaya memanfaatkan
suasana konfrontasi bagi kepentingan partainya. Dengan alasan memperingati HUT
PKI ke-45, sejak bulan April 1965 Sofyan telah melancarkan kampanye politik. Nampa-
knya Sofyan telah mendapat informasi tentang akan adanya gerakan PKI. Menjelang
tanggal 30 September 1965 gembong PKI Kalbar itu sibuk mengikuti siaran RRI Jakar-
ta.
Ketika pecah pemberontakan G30S/PKI tanggal 1 Oktober 1965, Sofyan dan
pengikutnya telah menyebarluaskan pengumuman Dewan Revolusi, bahkan telah
63

