Page 96 - combinepdf_Neat
P. 96
Kegiatan Belajar 3
Perkembangan Sosial dan Emosional
Trust versus mistrust merupakan tahap pertama perkembangan sosial emosi menurut Erik Erikson.
Seorang bayi melalui masa krisis ini dimulai saat lahir hingga kuranglebih 18 bulan. Sumber kepercayaan
bayi biasanya berasal dari ibu sebagai figur utama pengasuhan yang memberikan kebutuhan-kebutuhan
dasar seperti makanan (air susu), kenyamanan dan kasih sayang (Santrock, 2007). Keberhasilan seorang
anak dalam melewati masa krisis ini akan berpengaruh terhadap pengalaman dan pencapaian masa krisis di
tahapan berikutnya.
Pengasuh yang konsisten dalam merespon kebutuhan anak akan menumbuhkan rasa percaya anak
kepada orang lain, sedangkan pengasuh yang tidak responsif atau tidak konsisten akan membentuk anak
menjadi seorang yang penuh kecurigaan. Anak-anak yang telah belajar untuk tidak mempercayai pengasuh
selama masa bayinya mungkin akan menghindari atau tetap skeptis untuk membangun hubungan
berdasarkan rasa saling percaya sepanjang hidupnya. Kegagalan mengembangkan rasa percaya
menyababkan bayi akan merasa takut dan yakin bahwa lingkungan tidak akan memberikan kenyamanan
bagi bayi tersebut, sehingga bayi tersebut akan selalu curiga pada orang lain.
2. Autonomy vs Shame and Doubt (Otonomi vs Malu dan Ragu – ragu, 18 bulan– 3 tahun)
Tahap ini merupakan tahap anus-otot (anal/mascular stages), masa ini disebut masa balita yang
berlangsung mulai usia 1-3 tahun (early childhood). Pada masa ini anak cenderung aktif dalam segala hal,
sehingga orang tua dianjurkan untuk tidak terlalu membatasi ruang gerak serta kemandirian anak. Namun
tidak pula terlalu memberikan kebebasan melakukan apapun yang dia mau.
Pada tahap ini anak sudah memiliki kemampuan untuk melakukan beberapa kegiatan secara mandiri
seperti makan, berjalan atau memakai sandal. Kepercayaan orang tua kepada anak pada usia ini untuk
mengeksplorasi hal-hal yang dapat dilakukannya secara mandiri dan memberikan bimbingan kepadanya
akan membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri. Sementara orang tua yang membatasi
dan berlaku keras pada anaknya, akan membentuk anak tersebut menjadi orang yang lemah dan tidak
kompeten yang dapat menyebabkan malu dan ragu-ragu terhadap kemampuannya.
Pembatasan ruang gerak pada anak dapat menyebabkan anak akan mudah menyerah dan tidak dapat
melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain. Begitu pun sebaliknya, jika anak terlalu diberi
kebebasan mereka akan cenderung bertindak sesuai yang dia inginkan tanpa memperhatikan baik buruk
tindakan tersebut.
Kaitan trust dengan tahapan berikutnya adalah ketika anak melalui masa krisis otonomi versus malu
atau ragu-ragu (autonomy vs shame and doubt). Anak yang percaya dengan orangtua akan merasa percara
diri melakukan aktivitas yang berjauhan dengan orangtua. Meskipun aktivitas yang dilakukan tergolong
menantang, anak percaya orangtuanya mengawasi dan akan ada ketika dibutuhkan. Kepercayaan anak ini
mendorong anak untuk mengeksplor lingkungannya dengan lebih bebas dan menemukan sendiri
pemecahan-pemecahan masalah yang dihadapinya. Hal ini yang membantu anak melalui tahap kritis
berikutnya yaitu insiaitif versus perasaan bersalah (insiative versus guilt). Anak yang percaya diri berani
mengekspresikan insiatif dalam aktivitasnya tanpa perasaan bersalah atau takut dihukum oleh orang
dewasa.
Ega Asnatasia Maharani, M.Psi., Psikolog. Intan Puspitasari, S.Psi., MA
Psikologi Peserta Didik

