Page 11 - Stabilitas Edisi 219 Tahun 2025
P. 11

ada akhir 2025, perekonomian   IMF, BIS, dan berbagai lembaga riset
                  Indonesia menemukan       internasional, 2026 akan menjadi tahun
                  kembali stabilitas yang   “plateauing volatility”. Istilah itu untuk
          Psempat memudar. Setelah          menggambarkan bahwa tahun depan
          bulan-bulan penuh guncangan—mulai   bukan periode lonjakan suku bunga
          dari perlambatan konsumsi hingga   ekstrem, melainkan naik-turun yang
          meningkatnya keresahan sosial—    tidak terduga, namun menciptakan risiko
          sejumlah indikator kini kembali   pasar yang lebih rumit bagi bank-bank
          menunjukkan arah yang lebih cerah.   negara berkembang.
          Keyakinan konsumen melonjak ke level   Di Senayan, Menteri Keuangan
          tertinggi sepanjang sejarah, penyaluran   Purbaya Yudhi Sadewa tetap
          bantuan pemerintah mulai menetes ke   mempertahankan optimisme. Ia percaya
          ekonomi riil, dan harga komoditas yang   pertumbuhan ekonomi Indonesia
          bertahan tinggi memberi bantalan bagi   bisa mencapai 6 persen pada 2026—
          ekspor.                           angka yang secara politis penting bagi
            Namun, bagi industri perbankan,   pemerintahan baru.
          momen lega itu tidak akan berlangsung   “Kalau momentum ini bisa dijaga,
          lama. Tahun 2026 akan menghadirkan   tahun depan kita bisa capai pertumbuhan
          tantangan yang lebih liar dibandingkan   6 persen tanpa terlalu sulit,” ujarnya
          dua tahun sebelumnya. Para bankir yang   dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI
          berharap memasuki tahun baru dengan   DPR RI pada November lalu. Optimisme
          napas lebih lapang akan mendapati   itu didukung data keyakinan konsumen   Aviliani, Ekonom Perbanas.
          bahwa lanskap risiko justru menjadi   yang mencapai 118, angka tertinggi dalam
          lebih berlapis, lebih struktural, dan lebih   sejarah survei. Indikator ini pulih cepat
          sulit diprediksi.                 setelah sempat anjlok pada pertengahan   Pertumbuhan
            Geopolitik akan tetap menjadi   2025, ketika pelemahan ekonomi memicu
          sumber ketidakpastian terbesar. Rivalitas   protes publik dan demonstrasi yang   kredit masih akan
          antara Amerika Serikat dan China tidak   merepotkan pemerintah.       tertahan di level
          lagi sekadar kompetisi teknologi; ia kini   Riset Mandiri Institute memperkuat
          menjadi perebutan pengaruh ekonomi,   narasi itu. Lembaga tersebut    8–11 persen, atau
          keamanan rantai pasok, dan supremasi   memproyeksikan pertumbuhan 2026   tetap single digit.
          data. Dampaknya terasa hingga Jakarta:   berada di atas 5,3 persen, didukung
          harga komoditas bergerak liar, volatilitas   proses konsolidasi fiskal yang lebih   Masalahnya bukan
          rupiah meningkat, sementara kebijakan   disiplin dan peluang penurunan suku   suplai kredit.
          moneter global berubah zig-zag    bunga acuan Bank Indonesia. Konsumsi
          mengikuti setiap rilis data inflasi Eropa   juga menunjukkan tren menguat: hingga   Likuiditas sudah
          atau upah Amerika.                pekan ketiga November, pertumbuhan   longgar. Yang
            Sebagaimana disebutkan OJK dalam   konsumsi rumah tangga tercatat 36,6
          kajian stabilitas keuangannya, periode   persen YoY, jauh di atas rata-rata kuartal   lemah adalah
          2025–2026 diprediksi menjadi masa   sebelumnya.                       demand.
          high-frequency turbulence, di mana   Namun proyeksi-proyeksi itu
          komoditas, logam mulia, dan energi   menyembunyikan paradoks yang
          berada dalam tren volatile. Sementara   menggelisahkan: stabilitas makro
          imbal hasil surat utang global kian   Indonesia sebagian besar didorong oleh
          sensitif terhadap data ekonomi negara   konsumsi dan belanja fiskal, sementara
          maju. Rekor harga emas dunia yang   fondasi investasi dan ekspor belum
          terus pecah menjadi simbol paradoks   sepenuhnya pulih. Untuk perbankan, hal
          global: kecemasan meningkat meskipun   ini memang bisa dibaca sebagai peluang
          bank sentral berupaya memberi sinyal   pertumbuhan kredit yang tetap terbuka,
          stabilitas.                       meski risiko yang sama besarnya juga
            Di sisi lain, berdasarkan konsensus   tidak akan bisa ditahan.
          lembaga ekonomi global seperti       Lembaga itu juga memproyeksikan


                                                                              www.stabilitas.id   Edisi 219 / 2025 / Th.XXI 11
   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16