Page 12 - Stabilitas Edisi 219 Tahun 2025
P. 12
konsumsi rumah tangga pada kuartal dari penurunan suku bunga, pelonggaran
terakhir tahun ini berpotensi tumbuh GWM, hingga injeksi likuiditas ratusan
Periode 2025–2026 lebih tinggi dibandingkan kuartal triliun rupiah.
diprediksi menjadi sebelumnya. Hingga minggu ketiga Menurut Aviliani, pertumbuhan
masa high-frequency November 2025, rata-rata pertumbuhan ekonomi 2026 diperkirakan berada di
turbulence, di mana konsumsi tercatat sebesar 36,6 persen kisaran 5–5,3 persen, lebih baik dari 2025,
komoditas, logam mulia, secara tahunan (year on year/YoY), tetapi pertumbuhan kredit masih akan
dan energi berada dalam melampaui rata-rata kuartal ketiga 2025 tertahan di level 8–11 persen, atau tetap
tren volatile. yang sebesar 29,3 persen. “Ke depan, single digit. “Masalahnya bukan suplai
meningkatnya keyakinan konsumen, kredit. Likuiditas sudah longgar. Yang
promo akhir tahun, dan stimulus lemah adalah demand,” ujarnya.
pemerintah diperkirakan menjaga
momentum konsumsi kuartal keempat Respons Perbankan
2025 tetap tinggi,” tulis laporan tersebut. Di lantai-lantai kantor pusat
Ekonom Senior Perbanas, Aviliani, perbankan, rencana bisnis 2026 bersiap
menilai bahwa tantangan utama ekonomi disetor ke OJK akhir tahun ini. Tetapi
2026 bukan lagi soal ketersediaan dana, pesannya kelihatannya sama: tahun
melainkan lemahnya permintaan dari depan akan menjadi ujian berat. Bank
masyarakat dan dunia usaha. Padahal harus mengelola tiga risiko inti—risiko
pemerintah telah menggelontorkan pasar, likuiditas, dan kredit—dalam
berbagai kebijakan pro-growth, mulai lingkungan yang semakin mengancam.
12 Edisi 219 / 2025 / Th.XXI www.stabilitas.id

