Page 16 - Stabilitas Edisi 219 Tahun 2025
P. 16
risiko baru memerlukan pendekatan Pengawasan modern kini bergantung
pengawasan yang berbeda. pada data real time — bukan laporan
“Pertumbuhan transaksi digital manual yang dikompilasi bulanan.
dan penurunan jumlah kantor bank Ke depan, OJK juga menyiapkan
dari 32.720 unit pada 2016 menjadi penyempurnaan roadmap industri
23.538 unit per Juni 2025 menunjukkan perbankan, mencakup RP2I, RP3SI,
bagaimana industri bergeser cepat. Ini hingga Cetak Biru Transformasi Digital
membawa peluang, tetapi juga risiko Perbankan. Dengan langkah itu, regulator
yang harus dikelola,” kata Defri. berharap struktur perbankan menjadi
Sebagai penjaga aturan, OJK akan lebih adaptif terhadap tantangan
terus melihat kepatuhan industri ekonomi global sekaligus mampu
pada aturan-aturan yang sudah menjaga stabilitas sistem keuangan
diluncurkannya demi menghindari risiko nasional.
yang muncul di kemudian hari. Sebut “Regulasi bukan untuk membebani
saja Aturan Standar Ketahanan Digital industri,” kata Defri, “tetapi untuk
melalui SEOJK 24/2023. memastikan perbankan tetap resilien dan
Regulasi ini mewajibkan bank mampu bertahan menghadapi dinamika
memperkuat arsitektur digital, ekonomi yang semakin kompleks.”
mempercepat kemampuan respons
insiden, menguji ketahanan sistem, Respons Bank
dan memastikan teknologi tidak hanya Menanggapi regulasi-regulasi
Mucharom, modern, tetapi aman. Dalam lanskap di tersebut, bank-bank besar nasional mulai
Direktur Manajemen Risiko BRI mana insiden siber global tumbuh 20– menata ulang strategi internal mereka.
(Periode s.d 17 Des 2025) 30 persen per tahun, aturan ini bukan Di Bank Tabungan Negara (BTN),
Untuk itu, BRI sekadar tambahan — melainkan fondasi misalnya, transformasi dilakukan dengan
memperketat proses kredit, terutama
stabilitas keuangan.
memperkuat Kemudian ada POJK 24/2025 pada pembiayaan perumahan dan bisnis
struktur 1.5 mengenai Rekening Dormant dan inti bank tersebut.
Menurut Direktur HC & Compliance
lines of defence, Risiko Fraud. Dengan meningkatnya BTN, Eko Waluyo, BTN memperkuat
transaksi online, rekening pasif menjadi
memperbaiki pintu masuk pencucian uang dan pemisahan fungsi antara unit risiko,
validasi model penipuan. OJK kini menuntut bank operasional, dan bisnis. Mereka
menstandardisasi pemantauan, menutup
memperluas penggunaan sistem
risiko, dan celah, dan membersihkan ribuan digital (decision engine), memperdalam
memperkuat rekening yang tidak aktif. verifikasi dokumen, dan meningkatkan
validasi dengan data yang lebih robust.
Ada juga POJK 19/2025 tentang
integritas UMKM yang berupaya mengubah wajah Dalam konteks sektor properti
data internal. pembiayaan usaha mikro di Indonesia yang rawan sengketa lahan, kualitas
laporan proyek, serta risiko likuiditas
dengan syarat kredit lebih sederhana,
Infrastruktur standarisasi analisis risiko diperbaiki, developer, Eko menyebut bahwa bank
keamanan siber pun dan data diperkuat untuk menekan moral tidak bisa lagi sekadar mengandalkan
penilaian manual: sistem dan analitik
hazard. Langkah ini bagian dari strategi
kami tingkatkan. jangka panjang meningkatkan kredit risiko harus diperkuat. “BTN juga
UMKM menjadi 30 persen dari total memperbaharui metode scoring kredit
kredit nasional. konsumen, menyusun parameter lebih
Selain itu, diluncurkan pula POJK rinci untuk mencerminkan perubahan
18/2025 tentang Integritas Data dan daya beli masyarakat, serta memperkuat
Publikasi Laporan Bank. Aturan ini mekanisme early warning guna
diluncurkan regulator agar data-data mendeteksi potensi kredit bermasalah
bank bisa lebih cepat, seragam, dan dapat lebih dini,” katanya.
ditelusuri. Tidak ada lagi toleransi untuk Hal ini penting, mengingat tekanan
laporan yang tertunda atau tidak sinkron. biaya hidup dan suku bunga yang belum
16 Edisi 219 / 2025 / Th.XXI www.stabilitas.id

