Page 11 - Stabilitas Edisi 220 Tahun 2026
P. 11

alam beberapa tahun         Data OJK menunjukkan, meski rasio
                   terakhir, industri asuransi   solvabilitas yang tergambar dalam Risk
                   mendapat cobaan berat    Based Capital (RBC) industri secara
          Ddengan banyaknya kasus-          agregat masih di atas ambang batas,
          kasus yang menderanya. Meski angka-  disparitas antarperusahaan sangat lebar.
          angka premi dilaporkan kembali tumbuh   Ada perusahaan dengan RBC ratusan
          pascapandemi, namun kepercayaan   persen, tetapi tidak sedikit yang berada
          publik yang terkikis sulit untuk   di zona rawan bahkan sebelum kasusnya
          dipulihkan. Kasus gagal bayar, klaim   mencuat ke publik.
          yang tertunda bertahun-tahun, hingga   Masalahnya diperparah oleh kualitas
          likuidasi perusahaan asuransi besar telah   tata kelola yang belum merata. Dalam
          mengubah cara masyarakat memandang   sejumlah kasus, investasi dana premi
          industri yang seharusnya menjadi   ditempatkan pada instrumen berisiko
          pelindung risiko.                 tinggi atau tidak likuid, sering kali tanpa
            Kata “asuransi” tak lagi identik   transparansi memadai kepada pemegang
          dengan proteksi, melainkan sengketa.   polis. Ketika arus klaim meningkat,
          Dari polis unit link hingga asuransi jiwa   likuiditas mengering.
          tradisional, keluhan nasabah membanjiri   Kondisi yang tidak mengenakkan
          media sosial, ruang pengaduan Otoritas   itu dikonfirmasi oleh pengamat industri
          Jasa Keuangan (OJK), dan bahkan   asuransi Julian Noor. Menurut Direktur
          pengadilan. Masalahnya yang terjadi   Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum
          bukan insidental namun struktural.  Indonesia 2011-2017, salah satu masalah   Julian Noor, Pengamat Asuransi
            Bahkan kondisi itu masih terlihat   yang membelenggu industri asuransi
          hingga sekarang. Menurut data OJK,   adalah persoalan tata kelola. Isu ini
          hingga menjelang akhir tahun ini   terus menghantui karena sektor asuransi   Jumlah pemain di
          terdapat enam perusahaan asuransi yang   belum pernah proses penyehatan
          berstatus dalam pengawasan khusus.   industri, seperti yang pernah dilalui   industri asuransi
          Keenam perusahaan itu disebut belum   oleh sektor perbankan ketika mengalami   terlalu banyak
          memenuhi syarat rasio kesehatan   krisis moneter 97-98.
          keuangan pada perusahaan.            Namun begitu, persoalan tata kelola   jika dibandingkan
            “Hingga saat ini, terdapat enam   di asuransi juga muncul karena adanya   dengan
          perusahaan asuransi dan reasuransi   persaingan tidak sehat yang ada di
          yang berada dalam status pengawasan   industri tersebut. “Jumlah pemain di   pertumbuhan
          khusus OJK. Penyebab utamanya adalah   industri asuransi terlalu banyak jika   bisnisnya. Hal ini
          belum terpenuhinya rasio kesehatan   dibandingkan dengan pertumbuhan
          keuangan minimum sebagaimana diatur   bisnisnya. Hal ini yang memunculkan   yang memunculkan
          dalam ketentuan OJK,” kata Kepala   persaingan tidak sehat di industri   persaingan tidak
          Eksekutif Pengawas Perasuransian,   asuransi. Terlihat dari adanya perang
          Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi   tarif antar perusahaan asuransi,” kata   sehat di industri
          Prastomiyono.                     Julian, yang kini dipercaya menjadi   asuransi. Terlihat dari
            Menurut OJK, sebagian besar kasus   Komisaris Utama/Komisaris Independen
          gagal bayar dan keterlambatan klaim   di Indonesia Re.                adanya perang tarif
          berakar pada tiga persoalan utama:   Di industri asuransi ada posisi yang   antar perusahaan
          permodalan yang tidak memadai, tata   unik yaitu seorang aktuaris yang bertugas   asuransi.
          kelola yang lemah, dan ketidaksiapan   menghitung apakah premi yang dimiliki
          sumber daya manusia kunci, terutama   perusahaan mencukupi untuk meng-
          aktuaria dan manajer risiko. Dari   cover klaim yang terjadi. Nah, karena
          kacamata regulator, model bisnis yang   didorong persaingan ketat yang menjurus
          mengandalkan pertumbuhan premi    tidak sehat, perusahaan asuransi mencari
          jangka pendek—tanpa kecukupan     cara instan untuk menurunkan premi
          cadangan teknis—membuat perusahaan   agar bisa menggaet nasabah lebih banyak.
          rapuh ketika kondisi pasar berubah.  “Namun yang terjadi kemudian


                                                                              www.stabilitas.id   Edisi 220 / 2026 / Th.XXI 11
   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16