Page 12 - Stabilitas Edisi 220 Tahun 2026
P. 12
Sebagian besar kasus adalah premi yang dikumpulkan itu tidak aset, dan lonjakan klaim pascapandemi.
gagal bayar dan sanggup untuk membayar atau menutup Dampaknya terasa langsung pada
keterlambatan klaim klaim yang terjadi. Inilah yang terjadi di kepercayaan masyarakat. Penetrasi
asuransi dinilai disebabkan asuransi, penyimpangan tata kelola yang asuransi Indonesia masih rendah—di
oleh tiga persoalan utama: prinsip, menurut saya,” jelas Julian. bawah 3 persen dari PDB—dan krisis
permodalan yang tidak Di balik persoalan neraca, ada kepercayaan berisiko memperlebar
memadai, tata kelola yang masalah yang lebih senyap tetapi krusial: jurang tersebut. Nasabah menjadi lebih
lemah, dan ketidaksiapan kelangkaan aktuaria dan manajer selektif, bahkan skeptis. Agen asuransi
aktuaria dan manajer risiko berpengalaman. Indonesia masih menghadapi resistensi, sementara
risiko. kekurangan aktuaria bersertifikat perusahaan harus bekerja ekstra hanya
dibandingkan dengan ukuran untuk mempertahankan basis pelanggan.
industrinya. Akibatnya, penetapan premi, OJK mencatat lonjakan pengaduan
cadangan klaim, hingga desain produk konsumen di sektor asuransi dalam dua
kerap tidak berbasis perhitungan risiko tahun terakhir, sebagian besar terkait
jangka panjang yang solid. klaim yang tidak dibayar atau proses yang
Belenggu masalah itulah yang dinilai berlarut-larut. “Ini menjadi alarm keras
Julian masih menjadi ancaman industri bagi industri,” ujar Friderica Widyasari
hingga hari ini. Asuransi membutuhkan Dewi, Anggota Dewan Komisioner
aktuaria yang kuat, tanpa itu asuransi OJK bidang Edukasi dan Pelindungan
seperti berjalan tanpa kompas. “Produk Konsumen. Menurutnya, pemulihan
dijual, premi dikumpulkan, tapi risiko kepercayaan hanya bisa dicapai jika
jangka panjangnya tidak benar-benar industri menunjukkan perubahan nyata,
dihitung,” ujar Julian. bukan sekadar janji.
Kondisi ini membuat banyak
perusahaan kesulitan menyesuaikan Negara Masuk Gelanggang
diri dengan perubahan pasar, termasuk Di tengah krisis kepercayaan itu,
volatilitas suku bunga, penurunan nilai pemerintah menyiapkan langkah
12 Edisi 220 / 2026 / Th.XXI www.stabilitas.id

