Page 23 - Stabilitas Edisi 220 Tahun 2026
P. 23
ndustri asuransi Indonesia tidak boleh dipahami sebatas pemenuhan
sedang berada pada fase paling rasio. “Penguatan permodalan ini
menentukan dalam sejarah menjadi prasyarat agar perusahaan
Imodernnya. Setelah bertahun- asuransi memiliki kapasitas menyerap
tahun menjalani bisnis yang selalu risiko dan memenuhi kewajiban kepada
tertutup kegagahan sektor perbankan, pemegang polis secara berkelanjutan,”
rapuh secara struktur, terantuk persoalan ujarnya.
gagal bayar, sengketa klaim, dan Pengalaman krisis menunjukkan
lemahnya tata kelola, kini industri tengah bahwa rasio solvabilitas yang tinggi tidak
melakukan pembenahan mendasar. selalu menjamin kemampuan bayar
Reformasi yang kini dijalankan tidak lagi klaim. Dalam banyak kasus, aset yang
bersifat reaktif. dimiliki perusahaan tidak cukup likuid
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), atau nilainya tergerus ketika dibutuhkan.
pengayom industri asuransi, memilih Karena itu, OJK menekankan pentingnya
jalur struktural dengan mendesak kualitas modal, kehati-hatian investasi,
penguatan modal, mendorong dan manajemen risiko yang disiplin.
konsolidasi, membenahi tata kelola dan Pendekatan bertahap hingga 2028
sumber daya manusia, serta menyiapkan dipilih untuk memberi ruang adaptasi
program penjaminan polis oleh Lembaga bagi industri. Salah satu poin utamanya
Penjamin Simpanan (LPS) sebagai adalah peningkatan signifikan modal
fondasi kepercayaan. Arah kebijakan ini minimum perusahaan asuransi dan
menandai babak baru industri asuransi reasuransi. Saat ini, modal minimum Ogi Prastomiyono, Kepala
untuk mendisiplinkan pasar sekaligus perusahaan asuransi konvensional— Eksekutif Pengawas Perasuransian,
melindungi nasabah. baik jiwa maupun umum—masih berada Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK
Penguatan permodalan ditempatkan di angka Rp100 miliar. Dalam rencana Penguatan
OJK sebagai pintu masuk reformasi baru, angka tersebut akan naik menjadi
industri asuransi. Melalui POJK Nomor sedikitnya Rp500 miliar pada 2026 dan permodalan ini
23 Tahun 2023, regulator menetapkan Rp1 triliun pada 2028. menjadi prasyarat
kenaikan modal minimum secara Kenaikan juga berlaku untuk
bertahap hingga 2028. Kebijakan ini perusahaan reasuransi konvensional, agar perusahaan
lahir dari evaluasi panjang atas berbagai dari Rp200 miliar saat ini menjadi Rp1 asuransi memiliki
kegagalan perusahaan asuransi yang triliun pada 2026 dan Rp2 triliun pada
bukan semata disebabkan ketiadaan aset, 2028. Adapun untuk asuransi syariah, kapasitas
melainkan lemahnya kualitas modal dan modal minimum asuransi jiwa dan umum menyerap risiko
ketidaksiapan menyerap risiko jangka akan meningkat dari Rp50 miliar menjadi
panjang. Rp250 miliar pada 2026 dan Rp500 dan memenuhi
Secara agregat, data OJK hingga miliar pada 2028. Sementara modal kewajiban kepada
kuartal ketiga 2025 menunjukkan sekitar minimum reasuransi syariah akan naik
77-78 persen perusahaan asuransi dan dari Rp100 miliar menjadi Rp500 miliar pemegang
reasuransi telah memenuhi ketentuan pada 2026 dan Rp1 triliun pada 2028. polis secara
ekuitas minimum tahap awal. Namun, Ada catatan dari pengamat berkelanjutan.
angka tersebut belum sepenuhnya asuransi Irvan Rahardjo soal ini.
mencerminkan kondisi industri. Bahwa peningkatan modal tidak
Sejumlah perusahaan masih berada boleh dipersepsikan sebagai obat
dalam pengawasan intensif karena mujarab. Menurut dia, asumsi bahwa
masalah likuiditas, kualitas investasi, modal yang lebih besar otomatis
serta ketidaksesuaian antara aset dan menghilangkan risiko gagal bayar
kewajiban. adalah penyederhanaan yang berbahaya.
Kepala Eksekutif Pengawas “Asumsinya, dengan peningkatan modal
Perasuransian, Penjaminan, dan disetor tidak ada gagal bayar. Padahal,
Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono tidak otomatis akan seperti itu,” ujar
menegaskan bahwa penguatan modal Irvan.
www.stabilitas.id Edisi 220 / 2026 / Th.XXI 23

