Page 21 - Stabilitas Edisi 220 Tahun 2026
P. 21
menegaskan bahwa penguatan reasuransi Inilah sebabnya penguatan reasuransi
nasional menjadi agenda strategis. harus berjalan paralel dengan investasi Bisnis reasuransi itu
OJK mendorong peningkatan modal, besar-besaran pada pendidikan dan bukan hanya soal
konsolidasi, serta pembukaan ruang transfer pengetahuan. modal, tapi soal
kolaborasi dengan reasuradur global Namun demikian, tidak ada solusi pengalaman dan
data risiko jangka
melalui kehadiran kantor cabang di instan. Selama kapasitas domestik belum panjang. Untuk risiko
Indonesia—bukan sekadar penempatan cukup, reasuransi asing akan tetap infrastruktur dan
risiko lintas negara. dominan. Namun, tanpa strategi jangka katastrofik, kita masih
Pendekatan ini sejalan dengan Peta panjang, industri asuransi Indonesia sangat bergantung
Jalan Perasuransian 2023–2027, yang akan terus berada dalam posisi sebagai pada pasar global.
menargetkan pendalaman kapasitas “penyalur risiko”, bukan pengelola
domestik tanpa memutus koneksi dengan risiko.
pasar global. Dalam konteks kebijakan penjaminan
polis LPS, penguatan reasuransi
Persoalan SDM domestik menjadi fondasi yang tak
Akan tetapi, di balik angka dan terhindarkan. Sistem penjaminan hanya
neraca, persoalan paling mendasar akan efektif jika industri yang dijaminnya
adalah manusia. Industri reasuransi memiliki ketahanan struktural—modal
membutuhkan aktuaria senior, ahli kuat, tata kelola sehat, dan kapasitas
risiko katastrofik, dan underwriter risiko yang memadai.
berpengalaman internasional—profesi Jika tidak, premi akan terus mengalir
yang masih langka di Indonesia. ke luar negeri, sementara Indonesia
Tanpa sumber daya manusia (SDM) hanya menjadi pasar risiko, bukan pusat
kunci ini, tambahan modal pun tidak nilai tambah. Sebuah paradoks yang
otomatis mengubah kapasitas risiko. semakin mahal untuk dipertahankan. *
www.stabilitas.id Edisi 220 / 2026 / Th.XXI 21

