Page 53 - Stabilitas Edisi 220 Tahun 2026
P. 53
elama puluhan tahun, industri
asuransi identik dengan produk
yang rumit, proses berlapis,
Sdan pengalaman pelanggan
yang kerap memicu frustrasi. Di banyak
negara berkembang, termasuk Indonesia,
citra tersebut berkontribusi pada
rendahnya penetrasi asuransi. Namun
dalam satu dekade terakhir, lanskap itu
mulai berubah. Munculnya asuransi
berbasis teknologi finansial atau disebut
insurance technology (insurtech) menjadi
katalis penting dalam mendefinisikan
ulang cara masyarakat memahami,
mengakses, dan memanfaatkan
perlindungan finansial.
Insurtech bukan sekadar kanal
distribusi digital. Ia merepresentasikan
pergeseran paradigma: dari asuransi
sebagai produk eksklusif menjadi
layanan berbasis data yang relevan
dengan kehidupan sehari-hari. Menurut saya penting untuk membaginya
Digitalisasi secara perlahan mengikis
persepsi bahwa asuransi mahal, tidak menjadi dua kategori. Saat Anda melihat
transparan, dan hanya relevan bagi data saat membuat produk, ini bukan hanya
kelompok tertentu. Dalam konteks tentang harga. Tentu saja model penetapan
Indonesia, perubahan ini membawa
implikasi strategis bagi inklusi keuangan harga sangat penting, tetapi proses klaim
dan ketahanan ekonomi jangka panjang. juga penting.
Namun praktik insurtech yang sudah
muncul sejak delapan tahun lalu dan
tengah menapaki level berikutnya, Bryan Silfanus, Wakil Ketua Umum V Aftech Bidang Insurtech
menghadapi tantangan serius di era
ketika data dan digitalisasi sudah
menjadi praktik umum. Asosiasi Fintech
Indonesia (Aftech) menegaskan tantangan Saat Anda melihat data saat membuat Ledakan Insurtech
utama yang dihadapi industri insurtech produk, ini bukan hanya tentang harga. Pada skala global, insurtech
Indonesia dalam mengembangkan Tentu saja model penetapan harga menjadi salah satu subsektor teknologi
produk berbasis data bukan sekadar soal sangat penting, tetapi proses klaim juga finansial dengan pertumbuhan tercepat.
ketersediaan data. Akan tetapi terutama penting,” ungkap Bryan 11 Desember Nilai pasar global platform insurtech
menyangkut akses, standarisasi, dan tata 2025. diperkirakan mencapai sekitar 9,8
kelola data. Perbedaan mendasar antara insurtech miliar dollar AS pada 2024. Sejumlah
Wakil Ketua Umum V Aftech Bidang dan asuransi konvensional terletak pada proyeksi industri memperkirakan laju
Insurtech Bryan Silfanus menjelaskan peran teknologi sebagai tulang punggung pertumbuhan tahunan rata-rata sekitar
pengembangan produk asuransi berbasis operasional. Insurtech mengintegrasikan 36 persen sepanjang 2025–2034, yang
data harus dilihat dari dua sudut utama, aplikasi seluler, kecerdasan buatan berpotensi mendorong nilai pasar hingga
yakni penetapan harga (pricing) dan (AI), big data analytics, dan otomatisasi 132,9 miliar dollar AS pada 2034.
pemrosesan klaim. Keduanya, menurut proses secara end-to-end. Pendekatan Angka ini jauh melampaui pertumbuhan
Bryan, sama pentingnya meskipun ini menurunkan biaya akuisisi nasabah, industri asuransi tradisional yang
membutuhkan jenis data yang berbeda. meningkatkan akurasi underwriting, umumnya berada di kisaran 5–7 persen
“Menurut saya penting untuk dan memungkinkan pengelolaan risiko per tahun.
membaginya menjadi dua kategori. berbasis data perilaku aktual. Pertumbuhan pesat tersebut didorong
www.stabilitas.id Edisi 220 / 2026 / Th.XXI 53

