Page 55 - Stabilitas Edisi 220 Tahun 2026
P. 55
Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII).
Pada kuartal pertama 2025, perusahaan
mencatatkan premi sekitar Rp110 miliar,
melonjak sekitar 162 persen secara
tahunan. Kontribusi terbesar berasal
dari produk asuransi perjalanan dan
asuransi mikro digital yang dipasarkan
melalui kanal daring—indikasi bahwa
permintaan terhadap produk sederhana
dan fleksibel terus meningkat.
Mesin Utama dan Tantangan
Inovasi teknologi menjadi fondasi
utama pengembangan insurtech. AI
digunakan untuk underwriting otomatis,
analisis risiko, dan deteksi potensi
kecurangan. Big data memungkinkan
perusahaan merancang produk yang
lebih personal berdasarkan profil
risiko dan perilaku digital pengguna.
Sementara itu, teknologi blockchain
mulai dieksplorasi untuk meningkatkan Kinerja tersebut merupakan hasil nyata dari
keamanan dan transparansi data, serta
mempercepat proses klaim melalui smart penguatan distribusi dan perluasan segmen
contracts. pasar yang selama ini dijalankan secara
Model bisnis baru seperti embedded simultan. Pertumbuhan pendapatan premi
insurance juga berkembang pesat. Dalam
skema ini, asuransi terintegrasi langsung ini ditopang oleh penguatan distribusi dan
dalam transaksi digital—misalnya perluasan segmen pasar.
saat membeli gadget, memesan tiket
perjalanan, atau bertransaksi di platform
e-commerce. Konsumen memperoleh Teguh Aria Djana, Direktur Utama Simas Insurtech
perlindungan tanpa proses tambahan,
sementara perusahaan asuransi
memperluas jangkauan distribusi secara klaim. Kondisi ini menuntut upaya menciptakan basis permintaan yang kuat.
signifikan. edukasi yang lebih sistematis dari Insurtech berpotensi memperluas inklusi
Meski prospeknya menjanjikan, regulator, pelaku industri, dan ekosistem keuangan dengan menjangkau pekerja
insurtech Indonesia masih menghadapi keuangan secara luas. informal, pelaku UMKM, dan kelompok
tantangan struktural. Akses dan tata OJK berada pada posisi kunci berpendapatan rendah yang selama ini
kelola data menjadi isu krusial, terutama dalam menyeimbangkan perlindungan minim perlindungan.
terkait standarisasi, interoperabilitas konsumen dan inovasi. Kerangka Lebih dari sekadar inovasi teknologi,
sistem, dan perlindungan data pribadi. regulasi yang adaptif diperlukan untuk insurtech merepresentasikan evolusi
Bryan Silfanus dari Aftech, menegaskan memberikan kepastian hukum tanpa cara risiko dikelola—lebih transparan,
bahwa pengelolaan data yang aman dan membatasi ruang eksplorasi model efisien, dan berbasis data. Dengan
terintegrasi merupakan prasyarat utama bisnis baru. Regulasi yang terlalu dukungan regulasi yang tepat, inovasi
pengembangan asuransi berbasis data. ketat berisiko menghambat inovasi, berkelanjutan, dan peningkatan literasi
Di sisi lain, literasi asuransi sementara kelonggaran berlebihan dapat masyarakat, insurtech berpotensi menjadi
masyarakat masih rendah. Banyak meningkatkan risiko sistemik. pilar penting transformasi industri
konsumen belum memahami manfaat Ke depan, prospek insurtech di asuransi nasional, sekaligus berkontribusi
dan mekanisme produk asuransi digital, Indonesia tetap terbuka lebar. Penetrasi pada stabilitas sistem keuangan dan
serta masih menyimpan kekhawatiran internet dan ponsel pintar yang tinggi, ketahanan ekonomi Indonesia dalam
terkait keamanan data dan keandalan serta perubahan perilaku generasi muda, jangka panjang.*
www.stabilitas.id Edisi 220 / 2026 / Th.XXI 55

