Page 437 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 437

HUKUM PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN
                       UNTUK KEPENTINGAN UMUM SEBAGAI HUKUM KHUSUS
                  (LEX SPECIALIS) DAN PERLUNYA UNIFIKASI HUKUM PENGADAAN
                     TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM


                                                   Ibrahim Hasan*
                *Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembebasan Lahan Jalan Tol Serang-Panimbang III
                                Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
                         Alamat: Jalan Cidodol No. 5d, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12220
                                   Surat Eletkronik: https://email@ibrahimhasan.id


                                                       Abstrak
                Diterbitkannya  undang-undang  2  Tahun  2012  (UU  2/2012)  tentang  Pengadaan  Tanah  Bagi  Pem-
                bangunan  Untuk  Kepentingan  Umum  adalah  salah  satu  upaya  pemerintah  dalam  melakukan
                akselerasi pembangunan nasional dengan membuat suatu regulasi khusus terkait pengadaan tanah.
                Kemudian pemerintah segera menerbitkan peraturan turunan yang khusus mengatur pengadaan
                tanah,  yang  langsung  ke  tingkat  peraturan  presiden  tanpa  melalui  peraturan  pemerintah  yaitu
                Peraturan Presiden 71 Tahun 2012 yang terakhir diubah dengan Peraturan Presiden 148 Tahun 2015,
                Peraturan Presiden 3 Tahun 2016, dan Instruksi Presiden 1 Tahun 2016. Sebagai respon atas peraturan
                presiden tersebut, berbagai kementerian dan lembaga di jajaran eksekutif terkait juga menerbitkan
                berbagai aturan yang khusus mengatur pengadaan tanah dan menyimpangi kaidah yang berlaku
                umum seperti Peraturan Mahkamah Agung 2 dan 3 Tahun 2016 yang menyimpangi hukum acara
                TUN dan acara Perdata, kemudian Peraturan Menteri Keuangan 13 Tahun 2013 jo Peraturan Menteri
                Keuangan  10  Tahun  2016  yang  mengatur  standar  biaya  khusus  pengadaan  tanah.  Namun,  masih
                terdapat berbagai aturan yang belum diatur secara khusus terkait pengadaan tanah terutama pada
                tahap  pelaksanaan  pengadaan  tanah.  Sebagai  contoh  belum  adanya  aturan  khusus  untuk  tanah
                instansi, tanah kas desa, tanah wakaf, tanah fasilitas umum (fasum), dan tanah fasilitas sosial (fasos)
                yang seluruhnya masih diatur lembaga masing-masing sehingga sering menghambat pelaksanaan
                pengadaan tanah. Oleh karena itu, diperlukan unifikasi hukum terhadap aturan pengadaan tanah
                yang meliputi Peraturan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota dan Peraturan Menteri/Lembaga yang
                menyimpangi  ketentuan  yang  umum  karena  pengadaan  tanah  bagi  pembangunan  seharusnya
                diletakkan sebagai hukum yang khusus.
                Kata kunci:  Pengadaan  Tanah  Untuk  Kepentingan  Umum,  Unifikasi  Hukum  Pengadaan  Tanah,
                Aturan Teknis Pengadaan Tanah, Lex Specialis Pengadaan Tanah.

             A. Pendahuluan

             Latar Belakang
                  Pelaksanaan Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum (PTBKU) telah lama ada dan
             dilaksanakan di Republik Indonesia. Pelaksanaan PTBKU pada Rezim Orde Baru awalnya

             menggunakan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
             Agraria (UUPA) beserta aturan pendukung dan aturan trurunannya seperti Undang-Undang
             Nomor 20  Tahun 1961  tentang Pencabutan  Hak-Hak Tanah  dan Benda-Benda  di  Atasnya
             (UUPHTB).

                  Kemudian  pada  tahun  1993,  pemerintah  saat  itu  menerbitkan  aturan  khusus  PTBKU
             dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi
             Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Akan tetapi, pelaksanaan Keppres

             55/1993 tersebut diindikasikan banyak menimbulkan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)


                                                          429
   432   433   434   435   436   437   438   439   440   441   442