Page 441 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 441

Ibrahim Hasan: Hukum Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk ...     433


             Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Negeri berbeda dengan proses beracara biasa,
             sehingga penyelesaiannya dapat lebih cepat diputuskan oleh majelis hakim.
                  Kedua Perma tersebut telah berlaku dan dipraktikkan dalam pengajuan keberatan ganti
             rugi  di  pengadilan  negeri.  Namun,  dalam  pelaksanaannya  belum  sepenuhnya  dapat

             mengikuti Perma tersebut. Karena masih banyak para pihak maupun pelaksana peradilan
             yang memasukkan keberatan ganti rugi sebagai gugatan biasa yang memakan waktu lama
             dan memiliki mekanisme tangkisan, eksepsi, banding, dan sebagainya.


             Biaya Operasional Pengukuran
                  Biaya Pengukurandi lingkungan Kementerian ATR/BPN sejatinya menggunakan meka-
             nisme PNBP berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis dan Tarif

             Atas Jenis Penerimaan Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional. Kemu-
             dian seiring berjalannya waktu, terbit Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.02/2013
             tentang Biaya Operasional dan Biaya Pendukung Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi
             Kepentingan  Umum  yang  diubah  dengan  Peraturan  Menteri  Keuangan  Nomor  Nomor

             10/PMK.02/2016.  PMK  tersebut  khusus  mengatur  mengenai  biaya  operasional  dan  pen-
             dukung terkait PTBKU.
                  Kemudian kembali terbit aturan yang lebih khusus terkait biaya biaya operasional dan

             pendukung terkait PTBKU di lingkungan BPN dengan diterbitkannya Surat Edaran Menteri
             ATR/BPN Nomor 3061/2.1/VII/2016 perihal Ketentuan Pengelolaan Biaya Satgas A dan Satgas
             B Dalam Rangka Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum.


             Waris Tanah
                  Waris adalah salah satu masalah hukum yang menganut sistem pluralisme di hukum
             Indonesia, dalam arti banyak faset hukum yang bisa diberlakukan terhadap masalah waris
             contohnya penganut agama Islam menganut hukum waris Islam, penganut agama lain secara

             umum mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), atau waris yang
             mengacu pada adat istiadat, dan sebagainya. Terkait dengan waris tanah, UUPA tidak secara
             tegas  mengatur  mekanisme  pewarisan  tanah. Ada  beberapa  pasal  yang  berkaitan  dengan

             tanah, antara lain pasal 23 ayat (1) tentang Hak Milik, pasal 19 tentang kewajiban pendaftaran
             tanah, dan pasal 26 tentang jual beli, penukaran, penghibahan, pemberian dengan wasiat,
             dan perbuatan lain yang dimaksudkan untuk pemindahan hak milik beserta pengawasannya
                                                   5
             diatur dengan peraturan pemerintah.
                  Salah  satu  contoh  pengaturan  waris  tanah  yaitu  pada  Undang-Undang  Nomor
             56/Prp/1960 tentang Pemindahan Hak Atas Tanah Pertanian yang diubah dengan Peraturan
             Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 56 Tahun 1960, pada pasal 9 mengatur bahwa



                5  Ilhami Bisri, SH, MPd, Sistem Hukum Indonesia: Prinsip-Prinsip dan Implementasi Hukum di Indonesia
             (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), hlm. 108.
   436   437   438   439   440   441   442   443   444   445   446