Page 442 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 442

434    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             pemindahan  hak  atas  tanah  pertanian  adalah  dilarang  apabila  pemindahan  hak  itu
             mengakibatkan timbulnya atau berlangsungnya pemilikan tanah yang luasnya kurang dari
             dua hektar, kecuali disebabkan adanya pembagian warisan. Latar belakang pengaturan itu
             adalah usaha pemerintah untuk keluarga petani memiliki lahan pertanian minimum 2 hektar.

             Contoh  lain  dapat  ditemukan  pada  Peraturan Pemerintah  Nomor 20 Tahun  1961  tentang
             Pendaftaran Tanah, pasal 20 mengatur:
             (a)  jika orang yang mempunyai hak atas tanah meninggal dunia, maka yang menerima tanah

                  itu sebagai warisan wajib meminta pendaftaran peralihan hak tersebut dalam waktu 6
                  bulan sejak tanggal meninggalnya orang itu.
             (b)  Menteri Agraria atau pejabat yang ditunjuk olehnya dapat memperpanjang waktu tersebut
                  berdasarkan pertimbangan khusus.

                  Kemudian pada pasal 23 PP 20 / 1961 tersebut disebutkan:
             (a)  untuk pendaftaran peralihan hak karena pewarisan mengenai tanah yang telah dibukukan
                  maka  kepala  kantor  pendaftaran tanah  harus diserahkan sertifikat  hak  atas  tanah  itu
                  beserta  wasiat  dan  jika  tidak  ada  wasiat,  surat  keterangan  warisan  dari  instansi  yang

                  berwenang.
             (b)  setelah  peralihan  hak  tersebut  dicatat  dalam  buku  daftar  tanah,  maka  sertifikat  itu
                  dikembalikan kepada ahli waris.

             Kewarisan ini seringkali menjadi sebab terhambatnya pelaksanaan PTBKU, misalkan belum
             adanya kesepakatan kewarisan antara anak-anak selaku ahli waris atas tanah yang kedua
             orang tuanya sudah meninggal. Akibat sengketa antar ahli waris tersebut seringkali berujung
             pada penitipan uang ganti kerugian ke pengadilan negeri.


             Tanah Wakaf
                  Yang dimaksud dengan tanah wakaf adalah tanah yang memiliki alas hak milik yang
             sudah  diwakafkan  oleh seseorang  atau  badan  hukum,  dengan  memisahkan  sebagian  dari

             harta  kekayaannya  yang  berupa  tanah  hak  milik  dan  melembagakannya  selama-lamanya
                                  6
             menjadi wakaf sosial.  Dasar hukum dari perwakafan tanah milik dapat ditemukan pada pasal
             49  ayat  (3)  UUPA  yang  mengatur  bahwa  perwakafan  tanah  milik  dilindungi  dan  diatur

             dengan  Peraturan  Pemerintah.  Terdapat  beberapa  aturan  khusus  yang  membicarakan
             mengenai wakaf, yaitu Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, Peraturan
             Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun
             2004 tentang Wakaf, dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan

             Tanah Milik.
                  Pada  prinsipnya  tanah  wakaf  tidak  dapat  dilakukan  perubahan  terhadap  peruntukan
             atau  penggunaannya  selain  dari  apa  yang  telah  ditentukan  dalam  ikrar  wakaf.  Namun,



                6  Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi,
             dan Pelaksanaannya. (Jakarta: Djambatan, 2005), hlm. 272 & 345.
   437   438   439   440   441   442   443   444   445   446   447