Page 510 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 510

502    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



                  Dalam  konsiderannya,  Perpres  148/2015  diprakarsai  oleh  lambatnya  penyelenggaraan
             pembangunan  ialah  disebabkan  persoalan  pembebasan  lahan  yang  berlarut-larut,  sulit
             menemukan mufakat dengan pihak yang berhak atau terkena dampak pembangunan, telah
             menjadi kendala utamanya. Terlebih lagi jika rencana pembangunan dibukakan bagi pihak

             swasta melalui skema investasi (penanaman modal), yang acapkali manuai kontroversi dari
                                                                                 3
             masyarakat. Dalam perspektif Undang-Undang Penanaman Modal menjamin kondusifitas
             iklim  investasi  di  Indonesia  merupakan  suatu  kaharusan.Keterbatasan  modal  pemerintah

             (baik yang berasal dari APBN maupun APBD) di dalam merealisasikan segudang rencana
             pembangunan di tingkat pusat dan daerah masih memerlukan modal swasta (baik dari dalam
                                                                     4
             negeri maupun asing). Bambang Sumantri Brodjonegoro  menilai sinergi pemerintah dengan
             swasta dalam skema investasi salah satunya dalam bentuk pembiayaan infrastruktur sudah

             semakin dibutuhkan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019,
             biaya yang dibutuhkan untuk membangun berbagai infrastruktur mencapai Rp 4.796 triliun,
             hanya 41,3 persen yang dapat dipenuhi APBN,dan untuk memenuhi kekurangannya peme-
                                               5
             rintah berharap swasta ikut andil.
                  Untuk itu perlu dijaga stabilitas iklim investasi di Indonesia.Persoalan pengadaan tanah
             menjadi tantangan terbesar bagi investor. Bagaimana tidak, keterbatasan lahan untuk mem-
             bangun dewasa ini menjadi suatu kebutuhan yang saling tarik menarik antara pemerintah

             dengan  masyarakat,  sehingga  ketersediaan  tanah  tidak  dapat  lagi  mengimbangi  lajunya
             pertumbuhan kebutuhan tersebut.Berkaitan hal ini Bernhard Limbong berpendapata bahwa
             tanah memiliki arti yang sangat vital bagi kehidupan manusia, jika dilihat fungsinya, tanah
                                                                  6
             dapat merupakan social asset sekaligus capital asset.  Tanah sebagai social asset merupakan
             sarana pengikat kesatuan sosial di kalangan masyarakat untuk hidup dan kehidupan, semen-
             tara  sebagai  capital  asset,  tanah  merupakan  faktor  modal  dalam  pembangunan  an  telah
             tubuh sebagai benda ekonomi yang sangat penting sekaligus sebagai bahan perniagaan dan
                              7
             objek spekulasi.  Oleh karena itu, melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang
                                                                                 8
             Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum , pemerintah menjamin
             perolehan  tanah  untuk  terselenggaranya  pembangunan  tersebut.Perpres  71  Tahun  2012
             sebagai peraturan pelaksanaan perdana dari UU 2/2012 hingga terbitnya Perpres No. 30/2015

             menjadi issuepenting di kalangan investor, lambatnya proses pengadaan tanah selalu men-
             jadi penghambat mempercepat realisasi investasinya, sehingga peraturan tersebut diubah



                3  Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal.
                4  Bambang Sumantri Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.
                5  Bambang Sumantri Brodjonegoro, Butuh Sinerji Pemerintah-Swasta Atasi Pembiayaan Infrastruktur,
             diakses dari situs web www.tempo.co.id, pada tanggal 5 September 2017, pukul 13.00 WIB.
                6  Bernhard Limbong, Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan, Pustaka Margaretha, Jakarta, 2017, hlm.
             133.
                7  Achmad Rubaie, Hukum Pengadaan Tanah Kepentingan Umum, Bayumedia, Malang, 2007, hlm. 1.
                8   Undang-Undang  Nomor  2  Tahun  2012  Tentang  Pengadaan  Tanah  Bagi  Pembangunan  Untuk
             Kepentingan Umum, selanjutnya ditulis dengan UU 2/2012.
   505   506   507   508   509   510   511   512   513   514   515