Page 512 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 512

504    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             Kebutuhan  yang  sama  tersebut  jika  telah  dipenuhi  nantinya  akan  dimanfaatkan  secara
             bersama-sama, bukan oleh individu-individu tertentu.
                  Berbagai  ahli  hukum  mencoba  memberikan  gambaran  apa  yang  dimaksud  dengan
             kepentingan umum. Achmad Rusyaidi berpendapat bahwa kepentingan umum bukanlah hal
                                                                                                        13
             yang mudah mengingat penilaiannya sangat subjektif dan terlalu abstrak untuk dipahami.
             A.  A.  OK.  Mahendra, menambahkan  bahwa  istilah  kepentingan umum  merupakan  suatu
             konsep yang sifatnya begitu umum dan belum ada penjelasan secara lebih spesifik dan terinci
                                                                                                        14
             untuk  operasionalnya  sesuai  dengan  makna  yang  terkandung  di  dalam  istilah  tersebut.
             Selanjutnya  menurut  Abdurrahman,  dalam  rangka  pengambilan  tanah-tanah  masyarakat,
             penegasan  tentang  kepentingan  umum  yang  akan  menjadi  dasar  dan  kriterianya  perlu
             ditentukan  secara tegas  sehingga  pengambilan  tanah-tanah  dimaksud  benar-benar sesuai
                                                    15
             dengan landasan hukum yang berlaku.
                  Oloan Sitorus dan Dayat Limbong, mengemukakan penafsirannya terhadap istilah ke-
             pentingan  umum,  ia  mengatakan  kepentingan  umum  dikatakan  untuk  keperluan,  kebu-
             tuhan, atau kepentingan orang banyak atau tujuan yang luas. Sedangkan kepentingan umum

             menurut John Salindeho, adalah termasuk kepentingan bangsa dan negara serta kepentingan
             bersama  dari  rakyat  dengan  memperhatikan  segi-segi sosial, politik, psikologis,  dan  han-
                                                                                            16
             kamnas atas dasar asas-asas Pembangunan Nasional serta Wawasan Nusantara. Jika melihat
             kepada UU 2/2012, dapat ditafsirkan pembangunan untuk kepentingan umum harus bercita-
             citakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat sebesar-besarnya. Dalam artian kebutuhan
             bersama, tidak boleh menimbulkan kerugian atau kesengsaraan bagi masyarakat yang ber-
             sangkutan maupun kelompok masyarakat lainnya. UU 2/2012 menyebutkan kriteria pem-

             bangunan  yang  bersifat  kepentingan  umum,  yakni  1)  dalam  rangka  pertahanan  dan
             keamanan nasional; 2) jalan unum, jalan tol, terowongan, jalur kereta api, stasiun kereta api,
             dan fasilitas operasi kereta api; 3) waduk, bendungan, bendung, irigasi, saluran air minum,
             saluran pembuangan air dan sanitasi, dan bangunan pengairan lainnya; 4) pelabuhan, bandar

             udara, dan terminal; 5) infrastruktur minyak, gas, dan panas bumi; 6) pembangkit, transmisi,
             gardu,  jaringan,  dan  distribusi  tenaga  listrik;  7)  jaringan  telekomunikasi  dan  informatika
             pemerintah; 8) tempat pembuangan dan pengelolaan sampah; 9) rumah sakit pemerintah/

             pemerintah daerah; 9) fasilitas keselamatan umum; 10) tempat pemakaman umum peme-
             rintah/pemerintah daerah; 11) fasilitas sosial, fasilitas umum, dan rung terbuka hijau publik;
             12)  cagar  alam  dan  cagar  budaya;  13)  kantor  pemerintah/pemerintah  daerah/desa;  14)



                13  Achmad  Rusyaidi,  Pengadaan  Tanah  Untuk  Kepentingan  Umum;  Antara  Kepentingan  Umum  Dan
             Perlindungan HAM, http://prp.makassar.Wordpress-Com/2009/02/13, Diakses September 2017.
                14  A. A. OK. Mahendra, Menguak Masalah Hukum Demokrasi Dan Pertanahan, Cetakan kesatu, Pustaka
             Sinar Harapan, Jakarta, 1996, hlm. 279.
                15  Abdurraman, Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Setakan
             kesatu, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1994, hlm. 36.
                16  John Salindeho, Masalah Tanah Dalam Pembangunan, Cetakan Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 1988,
             hlm. 40.
   507   508   509   510   511   512   513   514   515   516   517